Sejuta Nyawa dan 5 Jam

Apa hubungannya coba?

Jam 5 sore hari Sabtu kemarin saya rasanya ada dalam pembantaian besar-besaran. Sejuta nyawa serangga rasanya harus melayang sia-sia saya libas dengan bantuan sepeda motor, beberapa nyawa menyangkut di mata saya, dengan suksesnya membuat saya kelilipan dan terhenyak sementara harus menghindari buruknya jalan di sepanjang ruas Tasikmalaya-Garut-Bandung, Wueeets, sementara ada beberapa mobil yang mencoba membuat saya jadi sejarah dengan sedikit parah mengambil jalan yang coba saya lalui. Entah kenapa sore ini begitu berat. Rasanya hampir semua Serangga keluar menjalani hidup di sore ini, mungkin karena disekitar jalan yang
saya lalui adalah sawah dan hutan, dan bukan pilihan mereka harus dilibas oleh kendaraan yang melintas di sepanjang jalan, dekat habitat mereka hidup. 5 Jam perjalanan pulang dalam sepeda motor emang berat.

Sebentar, kemana to Mas mau-maunya 5 jam menyiksa pant*t dengan mengendarai sepeda motor Karisma?


Sepanjang jalan pagi hari

Bandung-Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Pangandaran, harus saya lalui untuk mencapai tujuan kami, ‘Pantai Pangandaran’. Kami adalah saya dan seorang rekan saya (tidak bisa disebut disini nama aslinya, sebut saja Oknum E, bukan nama sebenarnya :p). Rencana jalan ini sudah kami rencanakan selama 2 minggu, dan berencana berangkat minggu kemarin namun terhalang karena ada fenomena pasang yang cukup hebat, jadi kami tunda dan bisa berangkat Sabtu ini. Berangkat jam 5 pagi, setelah melalui 2 jam di pagi yang dingin sepanjang jalan yang cukup berat antara Bandung-Garut-Tasikmalaya, akhirnya kami tiba di sebuah perempatan lampu merah dan memutuskan untuk bertanya seberapa jauh lagi kami bisa mencapai laut? “3 Jam lagi, A’…”, Masya Allah, masih jauh. Yah sudah sampai sini, rasanya sayang jika tidak sampai melihat laut. 2 tambah 3 adalah 5 jam. ternyata jauh lebih lama dari perkiraan kami (lebih tepatnya saya yang sok tahu mengatakan hanya butuh 3 jam perjalanan, maafkan saya E … ).

Melewati jalan lurus panjang, melewati Ciamis, melihat plang akhirnya muncul lah kata2 yang sudah dinantikan dari tadi. Pangandaran 88 Km ! Plang yang tidak melegakan hati, hiks, kok tambah berat dan jauh ya rasanya. di Banjar lah kami harus belok kanan, rasanya hati ini sudah cukup tenang karena hemat saya, sudah dekat kok kalo, udah belok gini. Saya ternyata SALAH BESAR sodara-sodara. Melewati kelak-kelok jalan, bukit, desa, bukit lagi, desa, gunung… 30 menit kemudian saya masih disuguhi plang Pangandaran 30 Km lagi! argh, andai ada pintu kemana saja. 10 menit kemudian… Pangandaran 20 Km lagi. Kami berdua cuman ketawa miris karena pant*t ini sudah capek, ingin segera melepas lelah. Jalan terus membiarkan motor meraung-raung menunggu birunya laut muncul.. sebentar lagi…

Hawa terasa panas ketika sampai.. ini pantai.. pastilah panas..tapi memang panas ini yang aku cari.. hehehe. Masuklah kami ke daerah wisata itu, Pangandaran, fyuuhhh… benar-benar disuguhi pantai biru yang membentang luas dengan pasir yang sayangnya agak kotor…Ombak tinggi berdebur..banyak perahu nelayan…
ombaknya benar saya cari.. namun bukan ini pantai yang saya bayangkan..


Di Pantai Nelayannya

Setelah berapa waktu mencari tambal ban karena angin ban depan sedikit berkurang akibat berjedotan dengan jalan, kami parkir dan mencoba mencari cara menikmati pantai ini. Untungnya ada beberapa orang dengan ‘baik’ hati mengunjungi kami dan menawarkan “Ke cagar alam saja mas, ada pantai dan hewan… cuman 40 ribu, nanti kami jemput lagi”. 40 ribu bukan sesuatu yang buruk, karena sempat teringat di Patengan dulu bahkan harus mengeluarkan 200 ribuan untuk sewa perahu. Ah, tidak salahnya kami coba.

Perahu berangkat, Mas nahkoda sempat mengantarkan kami melihat terumbu karang, sebelum mendarat di pasir putih di kawasan cagar alam.


Panta Cagar Alam Pangandaran

Ini yang saya cari! pasir putih yang membentang cukup luas, dikelilingi perairan yang cukup jernih biru…dan ombak menyasar pantai dengan cukup keras . Cukup sepi, hanya segelintir penjual makanan dan wisatawan berkeliaran di pantai ini, senangnya…. Berhubung kami lapar, berarti.. makan dulu. Sepucuk nasi pecel cukup enak disantap di pantai,menyewa tikar, melihat ombak berdebur.. sms ocha hanya karena ingin membuatnya iri
(ampun cha, pada dasarnya cuman pengen cerita ko :p, pengen ngajak kamu ke sini juga ndut ), langit mendukung kami dengan menampilkan warna biru khasnya yang membuat hati ini lega banget. Hei ombak, kamu bikin saya ingin berbasah-basah. Yah, jadilah saya berjinjit menuju laut, bermain-main dengan lumayan pe-de karena dah lumayan tahu cara berenang, sementara E tidur dengan suksesnya ! hihihi, kasihan kamu nak.πŸ˜‰

Puas bermain, mencari cara mengeringkan diri,saya mendekati tempat kami berteduh. Rupanya disuguhi pertunjukan menarik. Seekor kera turun gunung dan menghampiri kami. Saya bangunkan E yang kemudian kaget terhenyak ketika saya menunjukkan kera tersebut menghampiri dia yang sedang tidur. Saya menyodorkan makanan yang saya bawa dan dengan gembiranya dua saudara ini bereuni setelah sekian lama tidak bertemu hehehe


Reuni..

Berpisah dengan kera, kami memutuskan mencoba mengitari cagar alam ini mulai dari sepanjang pantai pasir putih. Masuk lewat mana ya? diputuskan untuk mengikuti sebuah jalan setapak yang sedikit tidak jelas. Membayangkan bahwa di headline koran akan muncul “dua mahasiswa ITB tersesat di Pangandaran”, kami memilih berhati-hati. Hutan yang cukup lebat, lembab, huuff, menyusuri jalan setapak sambil berbagi cerita, rasanya cukup mengisi hari kami. Dengan mengandalkan insting saya, kami ternyata samar-samar mendengarkan
jingle eskrim walls dan sepeda motor. Wah gak bener nih. Ternyata kami berhasil mencapai pantai awal, tanpa perahu !! dekat banget ternyata, dan cukup mudah. Bahkan, sebuah jalan tembus yang kami pilih kami sampai kembali ke pantai awal dimana kami berjanji untuk menunggu tambatan hati, eh menunggu perahu kami datang.


Di cagar alam

Ya sudahlah, melamun dan berenang lagi hehehe. Hal yang tidak diduga-duga terjadi ketika kami sedang asyik bermain ombak. Serbuan Kerajaan Kera. Seekora kera mengacak-acak tas kami mencari makanan manis yang sama yang kami berikan ke kera terdahulu. Ah, langsung panik, khawatir bahwa mereka meraih HP dan barang lain, kami memutuskan menyerbu balik ke tempat kami berteduh. Ditemani seorang anak kecil manis dan ayahnya, kami merespons aktivitas kera-kera tersebut. Seekor kera dengan lancarnya meraih botol Mijon saya, membuka tutup, dan menghabiskan jatah minum yang rencananya saya habiskan setelah berenang. Sial. Kok lancar banget dia membuka tutup minuman itu. Masalah mulai muncul ketika kera yang agak besar memutuskan untuk mengacak-acak kembali ransel E. Tidak boleh dibiarkan. Kami hampiri, dan berapa detik kemudian kami lari terbirit-birit karena ternyata si kera mengejar kami dengan menunjukkan taringnya yang cukup seram, hahahahaha. Kami berdua cuman bisa tertawa. Coba Mengambil batu, dan menakuti si kera tersebut. Cukup ampuh rupanya. Si kera mau meninggalkan ransel dan tikar kami, sehingga bisa kami seret barang dan mencari tempat yang lebih ‘aman’ hehehe.

Menutup aktivitas kami dengan membeli rujak manis dengan banyak jenis buah, kami makan di pinggir pantai…..Perahu penjemput kami akhirnya tiba.

Beli oleh-oleh gelang, kalung, dan gantungan kunci. Setelah berbenah diri di sebuah masjid, sholat, kami berdua memutuskan berjalan pulang dengan sedikit kekhawatiran karena membayangkan 5 jam lagi kami di jalan…

Sampailah kita di ujung cerita seperti yang disampaikan di ujung narasi ini hehehe, intinya sih … Capeeeek. 10 jam dalam sehari ini kami di jalan, membuat pant*t saya sedikit megap-megap. Tapi menurutku, it’s worth it, karena aku bener-bener pengen melihat laut, dan melupakan sejenak ketidak dewasaanku di sini. Banyak hal yang masih ingin aku hindari. Dan aku putuskan untuk bisa menghadapinya dengan lebih benar! Mungkin harus dipertimbangkan untuk naik mobil atau bis, dan menginap, membiarkan capek ini tidak dihabiskan di jalan.


Ah, sekedar kenangan

Mencari jalanku untuk mencoba terbang kembali ke pantai sini. Pasti suatu saat nanti !

  1. hm… mirip..πŸ™‚

    • Saladin
    • Mei 28th, 2007

    Kereen.
    200 ribu di patengan itu sih ga nawar. dasar.

    Keren, tapi ko suka banget jalan-jalan gini.

  2. Oknum E? Tumben ga nyebut nama aslinya seperti kasusnya Mas Bagus… Mencurigakan…πŸ˜†

    • febrian
    • Mei 28th, 2007

    @reisha :
    Em, banyak pertimbangan hehehe udah lama nih gak ketemu mas bagus yang asisten penilai kamu :p

  3. Hoho… Cieee…

  4. Kampret gak ajak2…
    Oknum E…
    Eeeee…yang itu tho?

    Ck..ck..ck..

  5. Edun aja km Feb, naik motor 5 jam, bolak balik pula. Sy aja nyetir 5 jam pake mobil punggung uda mengsol sana sini, gimana motor? Pantat km gak cuma rata, tapi jadi cekung ya? Pantat mencekung, perut mencembung. Cocok cocok…

    • OknumE
    • Juni 5th, 2007

    Wekekek..
    Akhirnya ditulis juga. Terima kasih untuk menyensor namaku dengan niatπŸ˜›

    Btw, ada yang kurang tu, dibawelin karena melengnya, hoho.. Yapz, emang capeeeee bangeeets (esoknya tepar beneran uy), but it’s worth it, right?πŸ™‚

    Berencana ke sana lagi dengan sang pujaan hati untuk sekedar berbicara tentang masa depan?

    Next destination : Sempu? (tapi nggak pake motor ya, bisa rata beneran neh p****t)

    • tauah
    • November 9th, 2007

    wah……..pantainya indah banget.^_*

  6. oh ini toh yang dibagi skrinsyutnya….

    ck ck ck… keren bro!! lain kali harus mencoba pantai Kalak di Pacitan, tempat saya jadian ama pacar KKN 1,5 taun yg lalu.

    dari jogja hanya 100 kilometer saja kok:mrgreen:

    100 km hanya……., ada trem gak buat kesana………..??? metro boleh lah..

  7. feboooo….. ini kamu??? ya ampuuunn…………………………………

    *geleng-geleng gak percaya*

    sumpah, ganteng!!! Hahahahahaa… (bukan berart sekarang gak ganteng lagi lho ya….)

    *tetep gak percaya*

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: