Stateless

Ada satu hal yang ingin saya coba pelajari akhir-akhir ini.

Pengalaman berkata bahwa saya adalah orang selalu mengandalkan bicara. Dengan bicara, saya coba men-state sesuatu yang saya ingin saya lakukan. Namun selanjutnya? Saya berhenti hanya bicara saja. Saya berhenti di saat saya merasa sudah puas memberikan suatu statement, suatu janji, suatu komitmen, terkadang janji saya begitu muluk dan indah dirasa, statement untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain.

Saya masih orang munafik. Yang saya katakan dan utarakan, bahkan saya tulis, terkadang saya ingin lupakan begitu saja ketika keadaan saya rasa tidak menguntungkan saya.

Saya harus sadar bahwa perkataan saya harus dapat saya pegang. Perkataan adalah sesuatu yang menjadi milik orang yang mengucapkannya, dan ketika itu keluar tidak dapat ditarik lagi. Kata-kata, kalimat, cenderung keluar dari mulut ini tanpa memikirkan konsekuensinya bagi saya sendiri. Seharusnya saya sadar, setiap apa yang saya ucapkan, akan sama dengan setiap apa yang kita perbuat. Ada konsekuensinya. Konsekuensi itu harus kita analisis benar-benar, mengerti faedah dan manfaatnya sebelum kita mencoba berbuat dan berkata. Seharusnya saya sadar ini dari dulu.

Janc*k. Setiap orang berbahasa ibu ‘Jawa’ mungkin tahu istilah ini, sebuah ungkapan kekesalan. Saya paling gak bisa ngucapin satu kalimat itu. Kalau saya sudah mengucapkan kalimat itu berarti saya sudah marah besar dengan seseorang, yang saya sudah tidak bisa memahami lagi apa yang harus saya perbuat ketika saya marah. Kenapa saya tahan? karena saya paling sakit hati ketika menerima ucapan itu, benar bahwa saya paling tidak suka ketika orang lain bicara langsung
kalimat itu dan ditujukan ke saya, berarti ketika saya mengucapkan itu ke seseorang saya harus yakin orang itu pantas untuk mendapatannya…

Sebenarnya itulah ucapan. Ada akibat rasa, kehendak, pikiran yang ikut melayang menemani kalimat-kalimat yang keluar. Statement yang kita buat, termasuk dari ucapan kita, harus kita pegang….Kenyataannya buat saya? hahaha, saya sudah capek jadi orang yang suka berbicara tanpa ada tindakan, atau kalau ada tindakannya sangat sedikit yang mendukung ucapan yang
sudah keluar sebelumnya. Saya jadi orang yang, secara jujur, saya benci sendiri…

Jadi gimana Feb? Sekarang saya sedang mencoba melakukan tindakan dengan mencoba sedikit
mungkin memberikan statement, mencoba menghentikan pembicaraan yang saya sendiri belum bisa terima ketika pembicaraan itu menjadi rasa. Saya coba mengerti bahwa ada ucapan, pembicaraan yang tidak perlu terlahir. Saya perlu lebih men-drive tindakan saya tanpa perlu disertai dengan pembicaraan yang akan menggoyahkan tindakan yang ingin saya lakukan.

Cukup dengan tindakan saja. Stateless, sebuah kondisi tanpa statement bukan berarti actionless..

  1. nyante feb ..
    lu ga sendiri kok. Gw juga, kalo lagi di kamar … sedikit bekerja banyak bernyanyi …

    Loh, maksudnya beda ya ?
    Hohohohoho ….

  2. Tumben km bijaksana Feb? Setuju bgt tuh. Apalagi cewe itukan lebi byk omong dr cowo. Tapi kalo uda masalah serius, sayangnya…, saya malah org yg terlalu menghamba sama kata2 yg uda sy ucapin. Bagus sih bagus, tapi itu bikin yg namanya STUBBORN, jd ga mau dengerin org lain. Dear God, release me from this curse.

    • febrian
    • Juni 27th, 2007

    @dibond

    Stubborn…. aku malah iri kepada orang yang seperti itu din, berarti punya pendirian dan pegangan… aku cenderung pragmatis…, makanya sekarang coba lebih dewasa dalam bertindak, walaupun masih jauh…

  3. Kaya’nya statement-less != stateless deh pep ^^

    But I got what you meant.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: