Lampu itu berwarna merah…

Sekarang.

Kupandangi laut, ketika cuaca mendung ini membiarkan lampu-lampu kuning menguasai pantulan cahaya di antara gemericik ombak

Tiga puluh menit yang lalu.

Aku berjalan diantara bangunan-bangunan pecinan tua, yang semuanya dah disulap, berubah bentuk, menjadi restoran dan rumah makan, toko, tempat potong rambut, tempat pijat, dan sebagainya. Diantara kerumunan tulisan yang terasa asing untukku, terpampang aktivitas manusia, makan, melayani. Niuwmarkt memang seperti itu. Siang terasa ramai, malam pun masih saja terasa tak kenal lelah. Kuil itu pun berdiri megah terhimpit banyaknya restoran dan bangunan dimana kaum pendatang menguasai perputaran uang di daerah ini.

Tapi aku pun tahu. Sekedar berbelok ke kanan dari arah kuil ini, kita akan dihubungkan dengan dunia yang benar-benar beda. Dibalik belokan itu aku tahu apa yang akan aku lihat. Diantara lalu lalangnya orang, menepi ditemani cahaya lampu yang menerangi lorong, aku tahu apa yang akan membuat lalu lalang orang itu berhenti, menoleh, memandang, mengernyit, tertawa, menggoda. Hal terakhir yang mereka lakukan ketika hasrat mereka tak tertahankan adalah mengetuk pintu dan kemudian melangkahkan kaki untuk masuk.

Lampu-lampu yang menerangi lorong itu berwarna senada. Benar. Tak ada yang dengan angkuhnya memasang lampu mencorong berbeda warna. Untuk menarik perhatian kah? Ah, lebih penting manusia didalamnya yang mengisi ruang kotak kecil itu. Semua orang bisa melihat isi di dalam ruang kotak itu itu. Ada tempat tidur beralaskan seprei sederhana, wastafel, kursi, dan akhirnya hanya sebuah pintu kaca besar nan bening lah yang menjadi pembatas penghuni kamar kotak itu dengan dunia luar.

Wanita-wanita itu hanya sejengkal berdiri di depan pintu kaca. Mereka berdiri menghadap ke luar dan merajuk. Tersenyum, genit, melambaikan tangan, bergerak halus untuk menggerakkan tubuhnya. Mereka memamerkan apa yang mereka jajakan. Semua yang mereka lakukan adalah usaha untuk membujuk. Kerdipan mata yang membuat laki-laki tergoda untuk bertemu di ruang kotak sempit itu. Tatapan mata mereka selalu menatap keluar, mencoba menangkap ketertarikan hasrat di antara pejalan kaki yang berdesakan melewati lorong-lorong sempit itu. Tak pantaslah aku sebut bagaimana sang wanita berpakaian, karena aku jadi bingung esensi berpakaian itu sendiri apa. Hanya sebatas beberapa potong kecil kain kah untuk menutupi bagian yang begitu mahal ketika dihargai dengan uang? Karena semuanya begitu jelas dan terbuka..Dihiaskan sorotan cahaya ultra violet dari dalam kamar, samar-samar terlihat kain-kain yang mereka kenakan berpenjar dan menambah eksotis tampilan mereka.

Dua laki-laki mengetuk pintu. Dengan senang hati dan memasang senyum cerah, sang wanita pun bergegas membuka pintu walau belum mengijinkan tamunya masuk. Mulailah mereka bertiga melakukan pembicaran. Dua laki-laki itu mencoba memberikan tawaran, sang wanita pun antusias mengiya-iyakan dan mendengarkan tawaran mereka dengan seksama. Dan akhirnya sang wanita pun mengijinkan mereka masuk.

Aku berjalan diantara lorong berikutnya, yang aku lihat adalah keberagaman penghuni kamar-kamar ini. Ada wanita dengan perawakan besar, ada juga wanita yang berkulit hitam, ada yang sudah demikian tua, ada yang berpenampilan garang dan sangar, ada yang masih muda dan terasa hawa remaja. Mereka bagai menyajikan pilihan, berbagai macam menu dan rasa untuk para pelanggan yang ingin memilih.

Sekarang.

Ombak pun bergulung2 kecil menghantam dermaga. Aku sudah jauh dari hiruk pikuk dunia mereka. Tapi pikiranku tampak masih tertinggal disana.

Inilah dunia. Inilah dunia tanpa pegangan. Inilah dunia dimana kenikmatan nafsu dan uang dijunjung begitu rupa. Apa yang ada dibalik pikiran wanita-wanita yang ada dibalik pintu bening itu? uang. Tak kan ada cinta yang akan melandasi sentuhan-sentuhan fisik mereka. Bahkan aku rasa keinginan untuk bercinta pun mereka hilangkan sedemikian rupa, hanya keinginan untuk melayani dan memberikan apa yang pelanggan inginkan. Mereka menjual begitu mudahnya… Hal2 yang pada hari biasa, pada wanita biasa, akan ditutupi dengan rasa malu yang amat sangat, mereka buka dan tampilkan dengan vulgarnya. Karena itulah yang mereka tawarkan..

Mau protes? proteslah pada para lalu lalang yang mencari pemuasan itu. Karena merekalah wanita-wanita itu hadir. Karena uang mereka lah wanita-wanita mampu membuang segala malu, untuk memenuhi hasrat birahi yang tersimpan didalam benak para lelaki. Apakah mereka sedang berusaha mencari keturunan seperti hukum alam asal mula hubungan lawan jenis tadi? ah, aku tergeletak menahan gelak tawa…. Toh, akhirnya mereka ketika berhubungan akan ditemani secarik kondom yang akan menahan sang cairan lelaki bertemu dengan bakal penghuni rahim.

Ketika dunia berputar antara uang, nafsu, dan dosa. Aku pandangi mendung di atas langit. Tak ada bintang yang tampak. Mungkin mereka disana tak peduli apakah hari ini ada bintang yang muncul, ataukah ketika bulan berbentuk kotak.

Mereka punya urusan dunia yang mereka harus urus sendiri. Namun aku sadar.. aku ada di dunia yang sama dengan mereka…..

Sepuluh menit yang lalu.

Aku terdiam, menyandarkan diri pada dinding, dan memutuskan berbalik arah. Berkelibat pikiran coba merasukiku. Aku melewati kamar itu lagi.

Aku segera bergegas dan melaju…

Aku sadar lampu itu berwarna merah.

– Januari 2008 –

    • chrisgaklogin
    • Januari 28th, 2008

    itu yang semalem ya ndut? hehe..

    semua judgement yang pernah terpikir di otakku tentang mereka seketika sirna waktu aku dengar cerita bahwa tak sedikit di antara mereka datang dari negara miskin di eropa timur, dijual oleh orang – entah germo entah mucikari – untuk membayar hutang.

    itulah hidup, ndut. mereka sudah paham bagaimana caranya menganestesi perasaan. meski pasti gak ada seorangpun tau apa yang ada di dalam hati mereka.

  1. Haaa perempuan jadi komoditi dagang terusss… gak rela gue!!!

    Tapi gimana perempuannya juga mau…!!
    Anyway, RESPECT women yaaaa!!!


    nope. aku gak pernah melihat mereka sebagai komoditi nad, coba memandang mereka ke diri sendiri gimana. tp mungkan tulisan ini masih jauh dari menyampaikan pesan, cuman sekedar deskriptif banget….

  2. Masalah budaya sih, kalo gw liat. Protes dalam hati saja feb.
    Yang gw takutkan adalah kalau Indonesia kita menjadi seperti itu.
    Mungkinkah? Gw bilang sih mungkin banget. Budaya Timur kita mulai terkikis.

    aku liat gak seperti itu bram. setiap kebudayaan pasti ada hal-hal seperti ini, di tempat kita yang budaya timur gak tampak karena kita malu, hanya itu yang membedakan. tp kalo kebudayaan yang buruk tentang jual beli nafsu, materialisme, di setiap peradaban pasti ada…..

  3. Hihihi… kok sy malah ketawa sih Feb baca posting mellow km kali ini. Apalagi di bagian nyinggung2 kondom. :p

    Ya begitulah Feb. Kiamat emang udah deket kan… Tapi kalo ntar saya main ke Bld, km harus ngajakin sy ke tempat itu ya! Penasaran! ^^


    weee, ini bukan posting mellowww

    saya mah berusaha nulis tanpa bawa perasaan apapun din… saya cuman mandang dunia sebagai tempat ajang materialisme…

    hihihi boleh deh nanti kamu aku bawa terus aku tinggal :))

  4. Finally, kamu melangkah ke sana …
    dari sekedar guyon-guyon dulu,
    dari semua wanti-wanti sebelum berangkat dulu,
    finally, teman, kamu melangkah ke sana….

    Hehehe…


    bukan sebuah langkah kem, hanya sebuah perjalanan…

    • jhonny walker
    • Februari 5th, 2008

    red district alert!!!

    waduh mas, saya mah gak niat nutup2 in, mang ini cerita ttg red district di amsterdam, cuman pengen nyampein dengan bahasa yang tidak vulgar heheheheh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: