Waktu, Jalan dan Rindu

Hari-hari semakin kulalui dengan perasaan aneh. Pergi ke negeri ini bukan malah membuat semuanya lebih mudah. Lari. ternyata melihat ujung jalan yang semakin bercabang-cabang merangkul segala hinggap kecemasan ini. Betapa aku melihat kebukansiapa-siapaan diriku yang masih kecil tengil di pelataran bumi tempat manusia mengarungi jalannya waktu. Ketika waktu berjalan cepat, meninggalkan kalimat2 besar yang terlontar yang hanya menyadarkan aku di saat ini betapa masih bodohnya aku di saat yang lalu.

Untuk melaluinya aku sadar butuh kekuatan hati. Untuk melaluinya aku sadar butuh ketegasan pikiranku, kelapanganku untuk melihat hidup dan keterbukaanku untuk mengambil semua hikmah yang terserak dan pelajaran yang terbarai. Merangkainya satu demi satu membentuk aku yang nantinya bisa bangkit dan berjalan dengan tegap, bukan hati yang penuh keluhan dan rengekan, bukan kemalasan dalam bangun menghabiskan tidur. Aku ingin menjadi Jiwa yang matang dan mempunyai kesahajaan dalam bertindak.

Ya Rabb, berilah aku kemudahan.

Merindukan secercah cahaya hati.

Diemen, Mei 2008

  1. 😐
    Rasanya semua masih gelap. Takut tersesat untuk terus maju tapi sudah terlalu jauh untuk kembali ke awal. Dua-duanya adalah pilihan dan tak ada yang salah dengan memilih untuk maju atau kembali. Ketika satu diputuskan, teruslah berjalan meski hanya dengan sedikit cahaya. Jangan pernah berhenti. Jangan. Karena mungkin satu langkah di depan adalah langkah terakhir yang harus kamu tempuh.

    Nah tuh kan, dah sampe AH. Beli sayur dulu sana. *ditabok*

    we, nyindir ya yang kulkasnya udah kosong. kembali? rasanya gak bisa, harus tetep maju dan harusnya gak noleh2 lagi. yang lalu harus buat jadi pelajaran

    • anis
    • Mei 24th, 2008

    wah kadar melankolisnya lagi meningkat ya?
    dan oops, kok rasanya ada frase yg nggak asing ya,, kyk tagline blog-nya siapaaa gt.. hehe
    yup, semuanya ada prosesnya kok, ada yg melaluiny dgn cpat ada yg lambat. itu tdk penting.. karena yg penting kt berani memulai proses itu dan mempertahankan keberlangsungannya


    emmm frase yang mana sih😀
    sebenarnya bukan melankolis sih, pengen nyemangatin diri sendiri aja biar bisa milih keputusan yang terbaik. gitu. mempertahankan keberlangsungan nya juga susah untuk aku, aku orangnya antusias di awal dan kurang konsisten sama keputusanku sendiri hiks. semangat!

  2. hei, febrian..

    salam kenal yup..

    i want giving u comment for this poetry..
    nice word and surely being nice sentences too,,

    hehe,,
    -hidup itu pilihan-

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: