Uh

Adinda

Masihkah di sana engkau tertidur

Dihiasi mimpi yang selalu terperi engkau ceritakan

Bolehkah aku berharap

Nanti ketika engkau membuka matamu

Aku ada di sampingmu

Menjadi lelaki yang paling tangguh

 

Tak ingin kujejakkan kaki di bumi ini dengan angkuh

Kupaksa diriku untuk malu

Tertunduk menatapi ketidakpernahsempurnaan

 

Dengan segala kerendahan hatimu

Biarkan aku menyandingmu

Aku ingin mendekati

walau dengan jalan yang terbatas oleh waktu

Segala ketentuan yang telah ada di ketetapan kita

 

Rinduku kugantikan dengan cita-cita

Kata-kataku kutinggalkan dengan kemauan

Karena kaulah anugerah yang terindah untukku

 

Betapa aku berharap

Bahwa telah nanti dan selalu

Perasaan ini

Mampu membuatku untuk

Mengharu biru bersujud…

 

Haarlem 5 Desember 2008

    • helltoheaven
    • Desember 7th, 2008

    Cieeeeee… Ahem aheeemmm….

    Jadi malu ah feb, masa dipublish disini. Puisinya buat kita aja dong. Hahayy… *ditabok*

  1. masih ngarep sama yang duluuu itu ya feb? wkwkwk…

    hehehe bukan gi, ada deeeh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: