Un-sekularisme Ekonomi

Dikutip dari Kompas.com 5/3/2006 : 

Vatikan mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Vatikan bilang, perbankan dunia seharusnya melongok pada peraturan keuangan Islam untuk meningkatkan kembali kepercayaan para nasabahnya di tengah krisis global seperti sekarang ini. “Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya. Selain itu, spirit kejujuran harus tecermin dalam setiap jasa layanan yang diberikan,” demikian seperti yang tertulis dalam artikel harian Vatikan Osservatore Romano, Selasa (3/3) waktu setempat. Loretta Napoleoni dan Claudia Segre, Abaxbank Spa Fixed Income Strategist, dalam artikel tersebut menulis, perbankan barat dapat menggunakan sejumlah alat, seperti obligasi syariah yang lebih dikenal dengan sukuk sebagai jaminan (collateral). “Sukuk juga dapat digunakan untuk mendanai industri otomotif atau pekan Olimpiade di London nanti,” tulis mereka. Sebelumnya, pada 7 Oktober lalu, Paus Benedict XVI berpidato, konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini merefleksikan tidak ada yang abadi selain keberadaan Tuhan. Vatikan juga selalu menyoroti kondisi perekonomian global dan merilis sejumlah artikel yang mengkritik model pasar bebas yang banyak berdampak buruk dalam dua dekade terakhir ini. Sementara itu, Editor Osservatore Giovanni Maria Vian mengatakan, “Agama yang hebat selalu memiliki atensi yang penuh terhadap dimensi perekonomian masyarakatnya.”

Islam memang diajarkan untuk masuk ke seluruh aspek kehidupan :  akidah, akhlaq, pendidikan. ekonomi, politik, hubungan antar manusia.

Menilik sistem ekonomi “perbankan” konvensional kapitalisme sendiri, terdapat beberapa peluang resiko yang tercermin dari tidak seimbangnya sebuah sistem :

1. Resiko Likuiditas : ketika para nasabah secara serentak mengambil uang , dan bank sendiri tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi permintaan tersebut

2. Resiko Kredit : Bank memiliki kerentanan terhadap ancaman para peminjam uang yang tidak mampu mengembalikan uang yang dia pinjam.

3. Resiko Bunga : Bank diharuskan membayar bunga kepada nasabah yang menyimpan dana, dan jumlah bunga yang dibayarkan itu sendiri lebih besar daripada jumlah bunga yang harus dibayar peminjam uang kepada bank. 

Dan rasanya, sistem keuangan global ini semakin ruwet dan runyam. Pinjaman diasuransikan, dan asuransi di jual kembali kepada lembaga keuangan lain. Sistem yang dari awal tidak seimbang menjadi semakin berat sebelah. Kenapa saya katakan tidak seimbang? Ada beberapa aspek yang dapat digaris bawahi :

1. Memastikan yang tidak pasti.  Sistem bunga yang dianut, adalah selalu mengasumsikan bahwa investasi yang ditanamkan akan selalu mandapatkan hasil. Nasabah akan menyimpan uang, dan uang itu sendiri oleh bank akan diputar melalui skema investasi. Hasil dari investasi inilah yang akan dikembalikan ke nasabah dalam bentuk bunga. kenyataannya, investasi ini belum tentu membuahkan hasil yang positif. Investasi bisa saja malah mengakibatkan kerugian yang tidak jelas pembebanannya.

2. Menyatakan yang tidak nyata. Bahwa sistem keuangan sekarang sering kali melibatkan jual beli barang yang benar-benar masih diawang-awang, bisa dikatakan sebagai ijon. Runtuhnya sistem kredit perumahan di US sederhananya juga dimulai dengan menawarkan harga rumah seolah-olah harga rumah itu akan naik. Orang bahkan bersedia untuk membeli rumah untuk kemudian dijual lagi ketika rumah itu sendiri belum selesai pembayarannya atau bahkan pembangunannya. Hal yang terjadi kemudian adalah harga rumah malah turun dan membuat keuntungan yang diharapkan buyar.

Dari pengetahuan saya sebagai orang awam, Ekonomi Syariah jauh dari aspek-aspek yang melemahkan tersebut. Ekonomi Syariah menjanjikan sebuah keseimbangan antara hak dan kewajiban. Investasi selalu dibuka dengan perjanjian untuk menanggung keuntungan dan kerugian bersama-sama sesuai kadar, bukan dengan menetapkan sebuah angka yang harus dipenuhi oleh satu pihak.  Ijon dari awal sudah diharamkan oleh Islam, membeli mangga dari pohon yang belum berbuah adalah sebuah transaksi yang tidak diperbolehkan. Sebuah kondisi yang menjanjikan bagi umat Islam bahwa di masa sulit saat ini, jika kita bisa menunjukkan ketahanan sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan Al Quran dan Sunnah. Kuncinya adalah kesahajaan dan kerja keras, Insya Allah. Mari kita dukung.

  1. hail islam… :p

  2. “konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini merefleksikan tidak ada yang abadi selain keberadaan Tuhan” -> ga ngerti nyambungnya di mana… hehe…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: