Eby’s Big Adventure [Breda]

Kostum

Kostum

Pukul 12.00 saya mulai mengayuh sepeda, dan 10 meter dari rumah saya hal yang tidak diinginkan pun terjadi..ban dengan suksesnya kempes di depan rumah. Sudah saya upayakan memberikan pertolongan pertama dengan bantuan pompa tapi yang terjadi malah keadaan lebih buruk, pentilnya lepas, yaaa sudahlah, terpaksa harus ganti ban. Sebenarnya hal ini ndak buruk-buruk amat, saya ndak bisa bayangkan kalo harus ganti ban di tengah hutan…

Dan baru jam 4 saya baru sampai di breda, muter-muter di Breda dulu nyari masjid nya orang Maroko (ndak perlu bilang sempet hilang arah, gini mau ke negara yang tidak dikenal). Masjidnya cukup besar, dan tiba disaat Asar memungkinkan saya ikut sholat berjamaah dengan mereka. Mereka memandang saya, dengan pandangan yang sulit didefinisikan, heran, kasihan, terkejut, ada orang kayak gini ya, entahlah.

Perjalanan dimulai dengan mencari jalan keluar dari Breda, sebuah kota kecil yang cukup menarik, banyak yang bilang kota ini tempat ideal buat tinggal dan kerja. Dengan bantuan sinar matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, saya mencari jalan yang mengarah ke Tenggara dimana tujuan saya berada. Melaju di jalur sepeda, bertemu dengan bule-bule yang menikmati aktivitas sore di hari ini, kebetulan cuaca Jumat ini cukup menyenangkan. Tidak terlalu lama saya keluar juga dari Breda, hati cukup lega ternyata cukup cepat juga perjalanan ini bisa ditempuh [pikiran saya akan berubah beberapa saat kemudian].

Keluar dari breda, rupanya saya harus masuk mblusuk ke jalur yang lebih pedesaan. Dengan perasaan ekstaksi berlebihan, saya mulai menelusuri jalur tersebut. Di kanan kiri saya jumpai peternakan-peternakan, sawah-sawah, rumah pedesaan belanda yang di depannya terparkir traktor berukuran raksasa. Sepanjang perjalanan, bau kotoran kuda menyengat tapi menyenangkan, terasa hawa ‘desa’ yang cukup menarik untuk dinikmati dan ditelusuri. Di sebuah pertigaan, saya menjumpai sebuah peta [yang di kemudian, akan sangat membantu]. Sebuah peta yang menandakan jalur sepeda yang bisa ditempuh. Terdapat nomor-nomor yang menandakan access point yang bisa dituju. Ternyata begitu… Dengan bantuan peta dan posisi matahari, saya semakin masuk ke pelosok, bertemu dengan padang rumput luas, sinar matahari yang masuk dari celah-celah hutan pinus yang gelap nian.

Dengan bantuan peta yang saya jepret dengan kamera, saya masuk lebih jauh lagi. Di peta terdapat dua jalur yang bisa menjadi alternatif, dan saya putuskan untuk melewati jalur yang paling dekat, walau ternyata harus melewati sebuah hutan bernama Panenhoef. Dari sana saya bisa belok ke kota yang masih ada ‘kehidupan’ bernama Zundert. Ternyata keputusan saya tidak terlalu salah. Hutannya menyenangkan, benar-benar terasa di alam luar. Gelap terasa pertanda pohon-pohon yang tinggi menjulang mulai membayangi jalan dari sinar matahari. Sepanjang perjalanan tidak berpas-pasan dengan siapapun, karena bagaimanapun waktu sudah menunjukkan pukul 8 sore walau matahari masih hangat-hangatnya menyinari senja. Sekitar 8.30 keluar juga dari hutan. Istirahat sejenak menikmati roti bertaburkan coklat di sebuah bangku di ujung jalan.

Sebenarnya saya menunggu untuk bisa menikmati waktu-waktu bertualang seperti ini, di tengah alam luas, merasakan betapa kecilnya saya di alam dan bumi ciptaan Allah. Syukur akhirnya bisa saya nikmati juga dengan tidak terlalu banyak aral melintang, seperti rantai sepeda yang tiba-tiba putus di tengah hutan. Membayangkannya saja sudah cukup membuat saya berkeringat dingin. Alhamdulillah si Batavus masih setia menemani dengan lampu kecil dan redup menerangi cahaya di depan.

Batavus And I

Batavus And I

Saya harus sampai di Zundert sebelum gelap. Setelah merasa cukup istirahat, saya mengayuh kembali sepeda menuju Zundert centrum. Ternyata cukup besar dan ramai, memungkinkan saya jajan eskrim di tengah kota. Disini lah saya harus memutuskan untuk melanjutkan perjalanan atau berhenti : ada beberapa pertimbangan, waktu yang menunjukkan pukul 9, langit sudah cukup gelap. Saya bisa saja istirahat di centrum namun jika dipikir lebih lanjut, jika saya tinggal di centrum, tidak terlalu baik juga karena bisa mengundang perhatian orang. Namun, jika melihat peta, hati saya miris, lokasi saya berada sekarang ini masih sangat jauuuuh dari tujuan. Kalo di peta, tempat ini masih beberapa milimeter dari Breda huhu [padahal berasa udah berkilo-kilo terasa jauhnya perjalanan dari tempat saya memulai perjalanan].

Menikmati Hidup

Menikmati Hidup

Akhirnya saya putuskan juga untuk melanjutkan perjalanan. Matahari masih malu-malu di ufuk barat walau hanya sedikit menunjukkan muka. Sayangnya peta menunjukkan bahwa di depan tidak akan terlalu banyak kota yang bisa saya tuju. Jalan jauh dari pusat keramaian. untungnya jalur yang akan saya tempuh tidak melewati hutan-hutan lagi, jalur sepeda ada di sisi jalan besar dimana mobil lalu lalang mungkin dengan tujuan yang sama seperti saya.

peta perjalanan [Breda]

peta perjalanan (Breda)

Perjalanan pun berlanjut….

[bersambung]

  1. Hoo mboiisss ayo lanjut2!!!!!!

  2. feb, gimana caranya gak nyasar gitu sih? hanya mengandalkan peta???

  3. Siapa bilang saya ndak nyasar hehehehehe, di jalur 26 pun saya sudah ndak jelas karena di peta dan di penunjuk arah sudah beda, intinya sih din : kamu tahu dimana posisimu sekarang, dan tahu arah mana yang kamu tuju. Ketika arah penunjuk jalan berkata lain, saya ikut insting, ngelihat matahari dan ternyata memang benar. Untuk yang satu ini kesalahan paling besar dari saya adalah tidak mempunyai kompas :p.

  4. iiii, gambarnya lucu lucu bangeeet.. >.<"

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: