Terbang Separuh Bumi

Amsterdam – Jakarta, kalo dilihat-lihat di globe, dua kota tersebut sebenar nya terpisah hampir separuh dari diameter bola planet kita tercinta ini. Saya pun harus menempuhnya selama kurang lebih 15 jam dengan menggunakan pesawat terbang, yang entah bertipe boeing atau airbus, sayangnya saya tidak terlalu memperhatikan padahal sebenarnya cukup menarik kalau saya punya informasinya.  Sudah dua setengah kali saya bolak-balik juga antara dua kota itu, dan dua maskapai pula yang saya gunakan untuk bepergian : Singapore Airlines dan Luthfansa.

Singapore Airlines terkenal dengan pelayanan yang menyenangkan, dan memang terbukti. Namun dengan berat hati harus dikatakan pelayanan berbanding lurus dengan harga yang harus dibayarkan untuk menebus harga tiket nya. Tiket Amsterdam – Jakarta retour berharga 1200 an Euro ( pada tahun 2008), barangkali bagian yang cukup besar dari ongkos itu digunakan untuk membayar pajak bandara Schipool yang katanya lebih mahal dari pada bandara lain, frankfurt misalnya. Maka di sini juga cukup terkenal bahwa kalau ingin pulang murah berangkat saja dari Frankfurt, tapi ada teman saya yang bersumpah : ndak mau lagi kalau harus berangkat dari frankfurt, karena yang dirasakannya adalah berat di akhir. Sebelum terbang ke jakarta, Amsterdam-Frankfurt ditempuh dengan menyenangkan karena sudah terbayang  sampai di Indonesia, berkumpul bersama keluarga, liburan, namun lain halnya dengan Frankfurt-Amsterdam yang harus ditempuh dalam perjalanan balik ke amsterdam, ketika yang terbayang adalah pekerjaan yang dulunya ditinggalkan, kuliah yang harus ditempuh…. She said it was the worst nightmare hahahaha….

Ketika saya terbang dengan menggunakan Singapore Airlines, masalah tidak terlalu banyak dijumpai. Duduk di pesawat, menonton film, menerima senyum ramah dari pramugari, ruang yang cukup lebar antar kursi, semuanya cukup menyenangkan.  Transit di Singapore nya juga dilalui dengan mulus, walau pada dasarnya cukup sebal juga dengan segala prosedur di Singapore. Orang-orang di sana cukup kaku, dan tidak ramah. Saya harus mengecap pengalaman membongkar hand luggage saya untuk di jadikan di satu tas dan satu tas kosong lainnya harus masuk bagasi (buat apa coba, toh hanya tas kosong….).

Dengan menggunakan Luthfansa, ceritanya lain lagi …………… banyak hal kejadianyang terjadi khususnya ketika saya balik ke Indonesia Juli 2009 ini. Kalau dikatakan “ada uang ada barang” mungkin ada benarnya juga. Dengan Luthfansa saya ‘cukup’ membayar 850 an Euro untuk tiket retour Amsterdam Jakarta. Saya memang berekspektasi bahwa dengan harga yang lebih murah dari Singapore Airlines, semuanya akan tidak lebih mudah, tapi saya benar-benar ndak berharap ada kejadian aneh-aneh seperti yang saya alami kemarin-kemarin.

Pertama-tama : penerbangan “Amsterdam – Frankfurt was Cancelled” . Apa-apaan ini… padahal saya harus mengambil penerbangan Frankfurt – Jakarta dalam waktu 2 jam saya transit di Frankfurt. Setelah sedikit berargumentasi dengan orang yang menyerobot antrian di counter luthfansa (malah bukannya berargumentasi dengan petugas luthfansanya hehehe), saya dapat tiket penerbangan berikutnya dan memangkas waktu saya transit jadi hanya 50 menit. But it wouldnt’s stop give me trouble. Pesawat berikutnya ini ternyata juga di delay! dengan hitung-hitungan waktu delay ini, habislah kesempatan saya untuk menyusul pesawat Frankfurt – Jakarta di Frankfurtnya. Tapi kita ikut saja dengen penerbangan ini dengan janji manis bahwa kalau tidak terkejar penerbangan ke jakarta nantinya, penumpang akan diinapkan di hotel. Ternyata di Frankfurt sana, setelah berlari-lari antar terminal di bandara yang panjangnya mencapai 3 kilometeran, pesawat ke jakarta benar sudah lepas landas, dan kita diberitahu bahwa harusnya kita mengambil pesaawat ke bangkok!! hah, kok ya ndak diberitahu sebelumnya?? Akhirnya kita diurus pihak luthfansa dan didudukkan di pesawat menuju Kuala Lumpur (untung kejadian ketika suasana hati menyenangkan terpikir untuk bertemu keluarga di Indonesia, kepikirannya : bisa nambah portofolio menginjakkan kaki di negeri orang hehehe), dan dari Kuala Lumpur, “katanya” kita akan diterbangkan ke jakarata. Yah kita terima saja.

Pesawat ternyata menyempatkan diri mampir di Bangkok (nah kan bisa tambah portofolio ke negeri orang). Disini kita ternyata harus turun juga walau sebenarnya nantinya kita akan naik pesawat yang sama, jadi ndak bisa menunggu di pesawat saja. duh kebayang pemeriksaan-pemeriksaan itu. Tapi jedanya cukup lama juga ternyata, satu jam berhenti. Saya dan dua teman dadakan yang ketemu di satu penerbangan ke jakarta kepikiran untuk mencari oleh-oleh di sekitar bandara bangkok. Dan ternyata kita sama-sama bodor, ndak sadar nama-nama kita dipanggil untuk naik pesawat secepatnya hihi. jadilah kita bertiga lari-lari lagi di Bandara Bangkok.  Duh dari tadi lari-lari lagi, dan naik pesawat dalam keadaan berkeringat. Beberapa pramugari cukup curiga saya terkena flu babi dengan penampilan saya yang cukup pias dan berkeringat, wah kalo ini mah bukan flu teh, kurang olahraga aja hehehe.

Di Malaysia, masalah tidak berhenti begitu saja. Kita tidak terdaftar dalam penerbangan ke Jakarta! gimana to Luthfansa ini… haduuh. Untungnya masalah dapat diselesaikan dengan dialek melayu yang cukup medok, pihak Malaysia nya yang harus pontang-panting kontak pihak luthfansa dan mencarikan kita kursi kosong di penerbangan selanjutnya ke Jakarta, dan alhamdulillah kita bisa terbang ke jakarta hari itu juga ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saya sendiri was-was karena sebenarnya di Soekarno Hatta saya harus mengambil penerbangan lokal ke Surabaya atau Malang, jika sampai di jakarta pukul 10 malam tampaknya penerbangan yang kiranya bisa saya ambil sudah tutup loket..

Benar juga, sampai di jakarta sekitar jam 10 malam dan penerbangan lokal sudah habis. Waduh.  Dan Bagasi saya hilang!! Ternyata bagasi saya dan seorang menir dari Belanda yang tertinggal di Frankfurt, ndak masuk ke pesawat yang mengantarkan kami ke jakarta.  Ketika melapor ke Lost and Found Soekarno Hatta, laporan kami dicatat dan dijanjikan bahwa akan dikirim ke Malang lusa paginya karena dari pihak Luthfansa baru bisa menjanjikan barang akan tiba esok hari. Dari situ saya sendiri masih punya masalah : dimana saya akan menginap  malam ini?? ah saya putuskan menikmati malam saja di Soekarno Hatta sebagai usaha menghemat, toh sudah kepalang basah bertualang pontang-panting, sekalian saja diteruskan. Dan jadilah malam itu saya dihibur film “Crouching Tiger Hidden Dragon” yang sedang tayang di Trans TV malam-malam dan kebetulan belum saya tonton.

Esok paginya saya harus pontang-panting lagi, pesan taksi sana sini dari terminal 2 ke terminal 3 dan kemudian ke terminal 1 untuk mencari tiket ke Surabaya atau ke Malang. Akhirnya ketemu juga dengan “jodoh” pesawat ke Malang jam 7 pagi. Mata saya sudah hampir terlelap dan terkantuk-kantuk, demi sebuah perjalanan yang mengantarkan saya dari kota nun jauh di sana ke kota Malang tempat kelahiran saya, di negeri yang indah tercinta ini……….

  1. masih berusaha menunggu ceritamu yang lain feb….

  2. hehe… mau kawin emang banyak perjuangannya Feb….🙂

  3. tau numpak klm?

    review nya dunk…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: