Dunia, antara internet dan kenyataan

Saya sering merhatiin kalo komentar di detik.com dan kompas.com beda “kelas”. kalo di detik, komentar negatifnya umumnya lebih norak dan ndak berkelas, mengganggu suasana menikmati berita hehehehe

Dan ini yang bikin miris si.  Pagi ini saya membaca berita tentang awetnya jazad orang yang terkenal sholeh, sederhana dan pintar dalam ilmu beragama semasa hidupnya. setelah 26 tahun dikubur dan jazadnya akan dipindah, ternyata masih utuh, mengesampingkan fakta bahwa kawasan di sekitarnya adalah kawasan yang berupa rawa-rawa dan becek sehingga alasan utuhnya jazad karena faktor tidak ada nya organisme bisa terbantahkan.

Membaca cerita tersebut ya terang saja dalam hati : Subhanallah kuasa Allah SWT, ada hal yang ndak bisa dijelaskan oleh akal manusia. Saya berikan kekaguman dan hormat ke pada beliau jika memang amalan di masa hidupnya mampu melindungi nya di alam kubur sana. Nah saya lihat di bawah berita tersebut, ada 41 komentar… penasaran, saya buka lah kolom komentar tersebut.

Miris.  Beberapa komentar bodoh yang saya baca. Dengan alasan “ketidak ilmiahan berita”, ada beberapa komentar yang dengan tanpa hati berbicara : “mungkin dulunya diolesin minyak babi”, “banyak makan formalin ya makanya awet”. Mungkin mereka merana karena akal pikiran mereka diinjak-injak dengan bukti yang jelas. Bahwa apa yang mereka percaya terbantahkan, tapi karena mereka tidak mau menerima, sekenanya lah mereka mengait-ngaitkan sebuah cerita yang menurut saya inspirasi dan hidayah ke hal-hal yang ndak mutu dan ndak jelas. Sejujurnya saya merasakan itu sebuah insult atas perasaan “kagum dan hormat” saya ke beliau, kepercayaan saya…

Dunia memang berubah, ketika dulu manusia berlomba-lomba mencari Tuhan, sekarang mereka dipertuhankan oleh dirinya sendiri, ilmu pengetahuan, uang, kekuasaan… Saya ndak ingin terbawa begitu rupa, saya masih ingin percaya saya punya tujuan singgah di dunia yang fana ini, tidak hanya untuk bekerja mencari uang untuk dihabiskan di masa liburan terus kembali lagi bekerja, liburan lagi…

Mungkin yang berkomentar “bodoh” itu sudah kehilangan hidayah, biarlah dia berasyik masyuk dengan akal pikirannya sendiri yang dia agung-agungkan. Tapi dengan ada nya internet, saya rasakan bahwa usaha  mereka untuk melampiaskan atau pun menyebar luaskan kekeraskepalaan mereka  akan lebih mudah : tulis komentar-komentar bodoh, tulis artikel provokasi, sebarkan penghinaan….

Teman saya pernah berkata bahwa “Internet itu tempatnya berkumpul orang yang tidak tahu”. Jadi menurut saya harus pintar-pintarlah kita memilah informasi, Dunia sudah berubah, kita juga akan berubah, tapi semoga kita berubah ke arah yang lebih baik.

Saya mungkin menulis dengan emosi, namun sebenarnya yang saya takutkan adalah bahwa saya sebenarnya orang yang tahu tapi belum beranjak untuk berbuat….

  1. oooh, sy tau tu artikel itu. baca dimajalah mana yaaa… hahaha, ya begitulah feb. adanya inet makin memudahkan jalan yg namanya kebebasan berpendapat. tp resikonya, pendapat sebodoh apapun jd masuk. daripada emosi, mending baca ngupingjakarta.blogspot.com. ^^

  2. sama kayak “bog bodies” ga?

    btw keknya dunia ga segitu berubahnya juga sih. selalu ada believer dan ada non-believer, dan menurut saya antara dua itu ga ada yang lebih “mulia” dari yang lain. tapi kalo komentar2 kayak yang kamu contohin itu sih emang ngasal dan ga sopan namanya.

    • I cant agree with you gi

      dulu orang berperang buat agamanya adalah sesuatu hal yang mulia, ada tujuan lain di balik hidupnya dia, kehormatan, kepercayaan

      sekarang di sini saya ngerasa bahwa hidupnya orang2 barat yang sudah terbiasa dengan kedamaian merasa bahwa hal-hal seperti itu konyol, mending cari duit, liburan dimana dengan tenang

      dan saya masih percaya bahwa “believer” lebih mulia🙂

      • belum dijawab… sama kayak bog bodies ga?😛

        bukannya barat itu emang punya history yang buruk sama agama ya? masalah tujuan hidup sih general, tanpa agama orang juga bisa punya tujuan hidup yang mulia. kalo ngeliat believer yang ngebom2, yang menindas perempuan… sulit ngebayangin mereka lebih mulia daripada temen saya yang ateis yang hidupnya lurus2 aja.

    • Yang terawetkan itu? terus ndak bisa dijelaskan kenapa hanya satu orang yang mendapatkan perlakuan istimewa itu kan😀 Saya lebih memilih untuk percaya gi daripada memikirkan alasan ilmiahnya, toh akal manusia serba terbatas.

      Barat mungkin punya sejarah buruk dengan agama, tapi ada masanya socrates muncul, aristoteles yang masih mau berpikir dan berkorban dengan apa yang mereka percaya.

      Believer juga manusia mereka bisa bertindak salah, tapi jangan kesampingkan believer yang berhasil membuat perubahan yang baik. Mengapa juga harus melihat sesuatu dari “sample” negatifnya.

      Mungkin sama dengan ketika saya melihat sikap Ateis. Tentu mereka memang bertindak baik, bersikap ramah terhadap sesama manusia berbuat baik. tapi untuk apa? hanya ketika masa hidup kan? ketika mati itu semua akan tersapu. Jika mereka bisa mati dan menjawab bahwa merekalah yang benar saya akan percaya. jia mereka bisa membuat diri mereka hidup selamanya saya akan percaya dengan apa yang mereka pegang, karena yang saya tahu mereka sebenarnya bukan tidak percaya Tuhan, tapi menuhankan dirinya sendiri, dan jika mereka tuhan maka mereka bisa berbuat sesuatuu yang mustahil di pikiran kita kan?

      Jika believer adalah beriman, saya percaya mereka lebih mulia di sisi Allah SWT.

      • kalo bog bodies sih banyak. kalo emang belum bisa dijelaskan, itu juga ga membuktikan kebenaran agama. karena itu hanya menguatkan yang sebelumnya memang sudah kamu percayai kan. kayak patung2 budha di thailand yang selamat waktu tsunami. kalo kamu sebelumnya emang udah percaya, kamu bakal mikir itu mukjizat. tapi kalo ga, ya somehow ada alasan yang belum kamu tau.

        trus apa hubungannya para filsuf itu sama agama? bukannya justru itu buktinya orang2 yang ga percaya sama kepercayaan umum pun bisa berpikir dan berkorban demi apa yang mereka percayai tanpa embel2 agama? ilmuwan2 percaya pada bukti2 ilmiah yang mereka dapatkan walaupun di barat dulu bisa sampai dihukum mati karena dianggap “ga sesuai dengan agama”.

        dan kamu bilang “Mengapa juga harus melihat sesuatu dari “sample” negatifnya.” tapi kamu sendiri selalu mengambil sample orang ateis yang negatif seperti ga mau berpikir, mempertuhankan diri sendiri. lagian gara2 contoh dua komentar bodoh di internet aja kok jadi nganggap semua orang yang ga percaya itu sama jeleknya? sama kayak orang nganggap agama jelek karena beberapa orang yang ngebom itu kan?

        intinya saya kasih sample negatif ya buat nunjukin kalo “kemuliaan” seseorang ga ditentukan semata2 oleh apa yang dia percayai. believer yang baik ada, buruk ada. non-believer yang baik ada, buruk ada. banyak orang soleh yang saya tau pintar dan dermawan. dan banyak juga orang ateis yang saya tau intelek dan humble. mereka ga memaksakan “kebenaran” yang mereka percayai pada orang lain, dan terbuka pada hal2 baru. gimana mau menuhankan diri sendiri, konsep “tuhan” aja mereka ga percaya.

        *ckck… dari komen orang iseng aja nyambungnya ke sini ya :P*

      • nah kan saya bilang saya bisa melihat semua orang ateis baek atau semua sample adalah positif, semuaaaanyaaa bisa aja sukses di dunianya, melakukan hal-hal yang didefinisikan “baik” oleh manusia, membantu orang lain, pokoknya baek-baek deh, tapi saya coba menilai mereka dari definisi “ajaran” yang mereka anut sendiri. Anggap aja saya Ateis phobia – tapi memang itu yang harus saya lakukan, terhadap “ajaran”nya. Demikian juga dengan orang yang komentar dan generalisasinya : saya menganggap mereka “jelek” karena saya punya definisi baik yang harus saya pegang.

        Hubungannya sama filsuf? karena mereka sama-sama ndak takut mati gi. Galileo juga. hal-hal yang ndak saya temui di sini karena mereka menganggap hidup itu bekerja cari uang dan kemudia party. so?

        Jika semua belum ada alasan yang belum saya tahu, karena itu saya memilih saya percaya, sama seperti mengapa langit harus berwarna biru, mengapa mata kita ada dua sementara mulut saya satu, saya percaya bahwa ada yang menciptakan dan Maha Sempurna😀

        yak comment closed.

  3. yah pake diclose. ga acik ah😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: