Oldies

Lagi pengen  rajin nulis :D Saya sering membuka postingan dengan sebuah pertanyaan, termasuk tulisan sekarang ini. Postingan kali ini diilhami oleh satu pertanyaan penting ndak penting :

Masih kah anda rajin membuka profile Friendster anda?

Cepat juga ya situasi berubah, sama halnya ketika kita beralih dari Yahoo ke Google, dari Yahoo mail ke Gmail, dari SMS ke Internet Messenger. Yah itulah fenomena dari teknologi. Semua berada di jalur cepat, yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan “umat manusia”, akan tersingkir dengan cepat.

Saya ingat menjelang tahun ke dua masa kuliah saya di ITB, Friendster tiba-tiba begitu populer. Semua mendadak aktif  di laboratorium komputer, tentunya untuk mengecek profile, testimonial, upload foto, sampe terkenal foto friendster dengan ciri khas muka menghadap ke atas ( menghilangkan efek pipi bulat seperti yang saya punya ) dan diambil dengan hp resolusi seadanya.  Bahkan aktivis percumian ITB pun dibuat resah karena bandwith ITB tampak dipakai sebagian besar untuk mengunjungi website pertemanan satu ini. Menurut rumor, Friendster adalah salah satu website yang diblok aksesnya di ITB.

Beranjak ke 2007, setelah fenomena Friendster (FS), tiba-tiba muncullah F yang lain, FB (Facebook). Fenomena nya lebih hebat lagi, bahkan rasanya hampir merasuk ke segala sendi kehidupan, dipadu-padukan dengan bidang-bidang lain, dunia jurnalistik, penelitian, psikologi, asah otak, entertainment, semua mencoba memanfaatkan Facebook sebagai sebuah sarana dan media. Dan seperti biasa, di kalangan masyarakat Indonesia, pertengahan tahun 2008, FB merebak populer dengan cepat (walau agak telat, sekitar 7 bulan setelah saya kenal di Belanda, FB baru mulai dikenal di Indonesia). Ada masa-masa dimana saya menerima puluhan request teman dalam sehari saking beranjak populernya situs pertemanan ini.

Karena Friendster dan Facebook menggarap pasar yang sama, saya rasa harus ada satu pihak yang mengalah. Saya adalah orang konservatif, butuh waktu cukup lama untuk mengalihkan perhatian saya ke Facebook. Akhir 2008 lalu saya masih lebih rajin mengecek Friendster dan mengabaikan pesan-pesan dari Facebook.  Sekarang? label email saya tentang friendster telah teronggok tersembunyi di kumpulan label-label email saya yang tak pernah saya baca hahahaha. Login ke friendster pun sudah tak ingat lagi kapan saya terakhir melakukannya.

Friendster pihak yang kalah itu jelas. Facebook unggul dengan didukung aplikasi yang dibuat oleh para developer. Ada aplikasi macam kuis, seberapa jauh kamu mengenal saya, menjadi petani jadi-jadian, membuat penggunanya betah berasyik masyuk di depan komputer (akhir-akhir ini saya sering memakai kosakata “asyik masyuk”, tah papa…). Menurut saya Facebook sendiri sangat “web 2.0” aware, ditandai dengan penggunaan Ajax yang sangat user friendly. Hampir semua aktivitas di dalam facebook bisa dilakukan dengan nyaman, foto-foto pun bisa diupload dengan cara menyenangkan.

Facebook sendiri tidak segan-segan merefresh tampilannya, memperbaharui dirinya sendiri yang menurut saya sangat dibutuhkan, terbukti saya lebih suka dengan tampilan yang sekarang dibanding dengan tampilan perkenalan pertama saya dengan si doi, wall penuh dengan pesan-pesan dari aplikasi. Kesesakan informasi waktu itulah yang membuat saya masih setia dengan Friendster yang masih fokus dengan profile dan personal antara pengguna. Namun penyegaran tampilan oleh Facebook, membuat saya kagum betapa Facebook mampu mencermati kebutuhan dan keinginan penggunanya, dan kemudian merespons nya dengan cepat.  Pesan-pesan ndak jelas di wall dihilangkan walau tetap bisa diakses, membuat saya kemudian selingkuh ke FB karena segala kemudahan yang diberikan. Perselingkuhan ini juga tidak mengesampingkan alasan kepopularitasan Facebook sendiri. Teman-teman rata-rata sudah beralih ke Facebook. Popularitas di dunia social networking menjadi “make sense” menilik bahwa tidak ada gunanya kita cuap-cuap dan rajin mengakses kalau ternyata tidak ada yang menggubris dan tidak ada yang digubris ^^.

Friendster? miris (ini kosakata lain yang akhir-akhir ini sering saya pakai). Saya melihat ada usaha dari Friendster untuk memulai perubahan, contohnya usaha untuk mengintegrasikan aplikasi di dalam dunia perfriendsteran.  tapi mungkin bisa dikata sudah terlambat… orang-orang sudah sayang dengan mainan barunya. Walaupun kadang saya masih heran, ada masa Friendster malah dijubeli dengan iklan-iklan norak yang asal pasang dan ndak sinkron dengan tampilan Friendster itu sendiri, berbeda dengan Facebook yang menampilkannya secara elegan (google way). Kok si Friendster ini tidak berbenah tapi malah carelessly membiarkan penggunanya melenggang pergi.  Tampilan iklan di Friendster saya amati sedemikian besar dan mengalihkan perhatian dari isi website itu sendiri.

Terakhir juga saya lihat, tiap akses menu dan posting di friendster sendiri masih ditandai dengan posting dan refresh seluruh halaman, mengabaikan teknologi ajax yang begitu user friendly. Ketidak sigapan menghadapi tantangan dan teknologi baru inilah yang membuat Friendster bagai menggali lubang kuburnya sendiri. Sekarang ini saya tidak yakin bahwa masih banyak orang yang mengakses Friendster, terutama masyarakat Indonesia. Ketika Facebook semakin populer, bahkan ayah saya telah terdaftar, Friendster akan menjadi masa lalu, tenggelam bersama cerita-cerita usangnya teknologi yang lain…

Jadi begitulah teknologi, semua adalah tentang kebutuhan pengguna. Yang tidak berhasil memenuhinya akan tersingkir. Friendster menjadi pihak yang kalah secara “waktu”, dengan datangnya pendatang baru yang lebih menarik dan berkilau, Friendster telah takluk, minimal untuk saat ini….Friendster suatu saat akan menjadi kenangan di kalangan oldies, mengingat masa-masa jayanya.

Sudahkah anda login Facebook hari ini? Saya sudah. Sudahkan anda login Friendster hari ini? errrr……………..

  1. Aku kadang bahkan lupa kalo punya akun di Friendster. Huehe.

    Fs ga diblok dari ITB, tapi dibatasi aksesnya. Jadinya lemot aksesnya. Tapi Fb ga. Jadinya kalo di kampus pasti buka Fb. Huehe.

  2. punya saya udah saya hapus, saya lupa… padahal ada si pooh di sana ya🙂

  3. @reiSHA
    hah? enak bgt? di MBA fb ama fs diblok tuh. baru bisa setelah jam 5 sore.

  4. @k’diBond: Mungkin anak2 MBA disuruh serius belajarnya😀

    • jaritangan
    • September 14th, 2009

    beda level kita sha. huahahaha, jijay.

  5. seneng deh.. ternyata afebri jadi rajin nulis….

    kalau aku sendiri, dalam satu minggu, masih selalu cek friendster feb…
    sekalipun udah gak cari temen lagi…
    tapi sama facebook sendiri.. seringnya cepat jenuh.. kalau udah malas ngikutin kuis2 yang bikin penuh notif-di inbox

    yang aku belom tau cuma cara gimana orang biar gak bisa nulis di wall qta…

    btw, aku juga lebih suka nge-cek blog2 qu ketimbang mantengin fb sampai perih mata…

    hm…
    blog mu yang ini aku link di blog ku lhooo

    -c.u-

    ‘ephy’
    http://eksplorasibumi.blogspot.com/

  6. kalo dibandingin FS, FB lebih ngetren saat ini…
    tp tergantung org enjoynya yg mana. salam kenal mas… dari ank pontianak, kal-bar

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: