Mudik 2.0

Tepat hari ini, tepat dua bulan pula saya bertemu bulan Ramadhan di negeri Belanda. Puasa di sini sungguh tak terbayangkan, bahkan awal Ramadhan tahun ini puasa dimulai sekitar pukul 4 dan selesai pukul 9 malam (saya sih pernah mengalami puasa dari jam 3 pagi hingga 10 malam, yaa nasib belahan bumi utara dan selatan, gak kebayang juga puasa di kutub yang gak pernah buka hihihi…).

Perbedaan

Dan baru Ramadhan tahun ini saya berkesempatan terawih di masjid PPME Amsterdam. Kesannya: wow.  Harus diakui kondisi ini berbeda dengan yang saya temui di Indonesia. Kalau di Indonesia, menjelang akhir Ramadhan shaf akan semakin “maju”, kebetulan saya ikut malam ke 27, pengunjungnya membludaaaaak. Bahkan ada yang dipaksa untuk menunggu berjubel di pintu masuk diomelin sang organisator karena tidak muatnya. Benar sekali bahwa kami adalah minoritas di sini, ketika kami mendapat nikmat untuk berkumpul bersama terasa suasana yang berbeda. Para jamaahnya kebanyakan dari Indonesia, Maroko dan Turki, ada juga orang Afrika, tapi yang mengagumkan dan membanggakan adalah : imamnya berasal dari Indonesia, negeri yang notabene jauh dari awal Islam disebarkan, dengan bacaan yang sungguh merdu…. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa perbedaan bisa membawa keindahan..

Namun jangan salah menyangka saya sudah begitu rajinnya ikut itikaf, sayangnya terbentur dengan kenyataan saya harus masuk kantor dan tempatnya yang jauh dari domisili saya di Haarlem. Ketika harus pulang ke kamar jam 7 pagi dan jam 9 nya harus kerja lagi, saya merasa saya masih kurang kuat hati. Moga-moga ke depannya lebih baik lagi. Kondisi yang “agak berdesak-desakan” juga jujur menyebabkan saya sulit berkosentrasi dan hanya jadi follower. Ah ternyata saya masih harus belajar lebih banyak lagi.

Namun kenyataan ini membuat saya bertanya-tanya : mengapa di Indonesia kondisinya bisa berbeda. Yang saya pikirkan selanjutnya  adalah tradisi mudik yang begitu populer di bangsa kita. Jarang-jarang saya temukan tradisi sama di negara lain (mungkin ada yang tahu? di Malaysia mungkin hihihi ). Entah kapan mulainya, tapi saya lihat tradisi ini seperti menjadi suatu keharusan di kalangan umat muslim baik di Jawa, Sumatra, Sulawesi, menjadi sebuah fenomena besar perpindahan manusia, baik fisik maupun secara ekonomi, dari kota-kota besar ke daerah-daerah. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung Yogyakarta, bahkan Malang, yang notabene adalah kota-kota pusat  bisnis ataupun pusat pendidikan (berkumpulnya para mahasiswa perantau, seperti saya dulu) menjadi sangat lenggang mendekati perayaan Idul Fitri. Semua mahasiswa, perantau yang mencari sesuap nasi tiba-tiba merasa berkewajiban untuk pulang ke daerah asalnya.

Sebuah Tradisi

Sebuah tradisi yang tidak buruk, kesempatan yang langka untuk menjalin dan membangun silaturahmi dengan keluarga jauh, jarang-jarang kesempatan ini datang. Namun ini juga menjadi bukti tidak meratanya pembangunan di tiap-tiap daerah di Indonesia, terpusat nya “peluang dan kesempatan” menjadi Jawa sentris,  salah satu pulau terpadat di dunia. Tidak heran juga kalo suasana mudik menjadi arus orang-orang keluar dari jawa dan nantinya ketika arus balik, menjadi arus orang-orang masuk ke jawa.

Namun ketika saya coba mengaitkan dengan pola pikir saya : mudik identik dengan kesempatan untuk liburan panjang, itulah yang saya rasakan dulu. Kesempatan untuk lepas dari rutinitas yang harus dihadapi sehari-harinya. Apalagi dengan adanya tunjangan hari raya yang cukup besar bagi orang-orang yang bekerja, semakin lengkaplah rasanya suasana liburan ini.

Berhubung dengan suasana liburan ini, pastilah kita sudah membayangkan hal-hal yang senang-senang ketika kita sudah tiba di masa liburan itu. Konsentrasi kerja jadi tidak jelas (itu yang saya rasakan setiap menjelang liburan:D).  Tapi kita mungkin jadi terlewatkan pikiran bahwa : kita harus bersedih ramadhan telah lewat…..kita menyambut bulan syawal dengan begitu gegap gempitanya padahal tidak ada janji Allah ttg apapun di bulan Syawal (CMMIIW). Diantara 12 bulan hijriyah, Ramadhan lah yang paling sepesial. Dan sudah seharusnya saya mengingatkan terutama diri saya sendiri, jangan sampai karena kita terbayang suasana liburan ini kita lalai dengan Ramadhan itu sendiri.Sekali lagi jangan salah, saya juga masih jauuuuh. Ini sekedar sebuah kata yang saya coba saya terapkan dan ingatkan ke diri saya sendiri.

Mudik 2.0 ?

Saya masih cinta mudik, dan saya juga pengen mudik (apa daya…..). Yak, saya ndak bisa mudik dengan mudahnya karena jarak, waktu dan “sumber daya” yang terbatas. Namun saya juga melihat bahwa mudik jaman sekarang agak-agak bisa terwakili dengan mudik 2.0, meminjam istilah web 2.0. Dulu tak terbayang metode-metode yang sekarang ini populer dalam mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri : Bikin foto spesial kartu lebaran (fotonya beragam, lucu-lucu dan ada juga yang bikin saya tersenyum geli) dan kemudian tag orang-orang yang diinginkan untuk menerima ucapannya. Tidak kalah juga status-status Facebook yang ramai dengan ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Jika dulu dengan adanya SMS-SMS lebaran yang membuat kita rindu dengan cara tradisional kartu pos lebaran, mungkin sekarang kita akan merindukan menerima SMS-SMS lebaran yang saya prediksi akan berkurang intesitasnya… beberapa bagian memang tergantikan seiring berubahnya media komunikasi….

Lebaran dan Idul Fitri tetap menjadi sebuah perayaan istimewa. Diiringi dengan doa bahwa  Allah menerima amal ibadah kita selama sebulan penuh Ramadhan, doa bahwa kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan, namun ada satu hal yang saya perlu garis bawahi untuk saya sendiri : Saya ingin di luar bulan Ramadhan saya tidak lebih buruk dari apa yang saya amalkan dalam menyambut Ramadhan, tidak ingin ini hanya sebuah fenomena sesaat, karena bulan yang istimewa ini hanya datang setahun sekali…

Haarlem, 19 September 2009

– Febrian

Mohon Maaf lahir dan batin, jika ada kesalahan yang saya sengaja maupun tidak sengaja, baik secara maya maupun tidak maya, Doa semoga barakah dan Rahmah Allah menyertai kita semua, Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT………..

Minal Aidzin wal Faidzin,

Eid mubarak jongens, taqabal Allah minni wa minkum salih al a’mal!

  1. Sangat menarik …….
    Selamat merayakan Idul Fitri di negeri orang …. (mau mohon maaf tapi belum berkenalan) …. *** kenalan dulu ya … >> jabat tangan***

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: