Nisa

Nisa pun merengek-rengek, air matanya menetes melewati hidungnya. Ia mendengungkan tangisan hingga nafasnya habis untuk kemudian mengisak kembali.

Abi pun terdiam seribu kata, sulit sekali menyusun kata-kata. Ketika dulu mengumandangkan adzan di telinga anaknya itu tak terbayangkan betapa anak kecil sungguh akan berbeda dengan orang dewasa yang sering ia jumpai. Sebagai mandor pabrik ia sering dipercayai menengahi pihak manajemen dengan buruh, entah kenapa ketika ia berkata-kata di hadapan buruh yang dibawahinya, kalimat dapat tersusun rapi, terucap dengan wajar walau penuh makna persuasi.

Namun kata-kata itu sekarang hilang. Abi membelai rambut anak semata wayangnya itu sementara Nisa masih terus menggumamkan tangisnya.

“Nduk… makanan di rumah masih banyak. Ndak perlu sampai harus membeli di luar kan ?”, Abi bertanya dengan penuh hati-hati dan mengarahkan pandangannya ke Nisa.

Umi memandang dari dapur usaha suaminya untuk menenangkan Nisa. Ia tersenyum kecil, ia memang sengaja memberikan sebuah waktu bersama yang cukup antara Nisa dan ayahnya. Kemarin malampun ia sudah mengancam agar suaminya itu tidak menghabiskan waktu akhir pekannya di pabrik sebagaimana akhir pekan-akhir pekan sebelumnya.

“Abi harus di rumah besok! Nisa butuh perhatian Abi “, Umi menatap tajam Abi.

“Iya Mi, aku kan udah janji”, Abi menyahut kecil dengan tenang. Di dalam pikirannya tak terbayang segala daya upaya yang harus dia kerahkan hari ini.

Dan sekarang wanita yang tepat hari ini akan berumur 5 tahun itu masih merengek di hadapan Abi. Nisa meminta Lima buah paket makanan dari sebuah restoran terkemuka yang memang sering Abi dan Nisa lewati ketika mengantarkan buah hatinya itu ke playgroup setiap hari Selasa dan Kamis.

“Lima untuk menandakan 5 tahun, sebuah penghamburan…. Nisa harus belajar bersahaja, tak semestinya berlebihan seperti ini “, pikir Abi. Sebenarnya Abi patut bersyukur karena di hari ulang tahunnya ini, Nisa tak meminta apapun kecuali lima buah paket yang memusingkan Abi itu. Namun ia paham walau ia berkhutbah panjang tentang pemborosan di depan buah hatinya itu, belum tentu Nisa akan dengan mudah mengerti. Buktinya hampir satu jam Nisa masih belum menghentikan isaknya.

Dan puncaknya, Nisa melengos pergi dari hadapan ayahnya, ia pergi menuju ke kamar mainnya. Sebuah aksi kengambekan tingkat tinggi yang belum pernah ia peragakan sebelumnya, apalagi ke Abi yang memang harus menghabiskan sebagian besar waktunya di pabrik untuk bekerja.

Abi pun tercengang. Ia memandang Nisa membelakanginya pergi setengah berlari. Ego Abi sebagai seorang ayah dan laki-laki serasa campur aduk menghadapi aksi buah hatinya itu. Ia tahu bahwa anaknya benar-benar berharap keinginannya dipenuhi oleh Abi walau itu sedemikian tidak sesuai dengan pendapat sang ayah.

Abi menarik nafas dalam-dalam, menengok, pandangannya mencari-cari Umi yang berdiri di dapur. Umi hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Umi menolehkan kepala ke arah nisa dan dengan isyarat badan sedemikian rupa, Umi meminta sang ayah untuk menghampiri Nisa.

Abi bangkit berdiri.

“Baiklah, ayo kita beli. Nisa ganti baju dulu ya”, Abi berkata cukup lantang tanpa mengurangi kelembutan nadanya, berharap Nisa yang berada di kamar mainnya mendengar apa yang diucapkannya. Benar saja, Nisa beranjak keluar dari kamar mainnya sambil tersenyum walau wajahnya masih sedikit basah akan sisa tangisnya tadi. Nisa melangkah-langkah sambil berjingkat menuju Uminya, “Nisa make baju apa ya, Mi? “. Sebuah kelegaan di hati Abi melihat kegembiraan kecil buah hatinya itu.

Tak berselang berapa lama, di dalam mobil yang melaju, Abi melirik Nisa yang duduk di kursi belakang, sedang tersenyum cukup lebar memandangi hasil permintaannya yang telah dipenuhi. Nisa bak seorang putri kecil dengan mainan kerajaan yang mengelilinginya. Plastik-plastik berisi paket makanan itu memenuhi ruang duduk belakang menemani Nisa yang meringis bahagia, kepalanya tak henti-hentinya menoleh kiri dan kanan memandangi jalan yang dilaluinya.

“Nisa bilang apa ke Abi hayo? “, Umi menyela dari kursi penumpang depan.

Nisa berdiri dari kursi belakang dan menghampiri kursi pengemudi, ia merangkul tangan ayahnya dengan lembut, “Terima kasih ya Abi”. Nisa masih tersenyum lebar ketika memberikan kecupan kecil di pipi ayahnya. Abi pun membalas senyum Nisa dengen tak kalah lebarnya, ia mendapat hadiah kecupan, membawanya ke imajinasi bahwa ia seorang ayah terhebat di dunia.

Namun tiba-tiba tangan Nisa yang merangkul tangan Abi, menyentak dengan keras.

“Abi, berhenti dulu ! ”, Nisa berujar sedikit berteriak.

Abi secara reflek membanting setir ke kiri sambil menghindari kendaraan lainnya yang berjalan di kiri. Ia mengemudi dengan hati-hati memarkir mobil di pinggir kiri badan jalan.

Dengan kebingungan ia memanggil Nisa “ Nisa kenap…..”, Abi kembali terkejut ketika anaknya sudah meloncat, membuka pintu sebelah kiri dan keluar. Nisa mengambil dua bungkusan makanan tadi dengan menggunakan kedua tangan mungilnya, kemudian membalikkan badan berjalan semi berjingkat ke sebuah tempat.

Abi pun dengan tergesa-gesa membuka pintu pengemudi di sebelah kanannya. Dengan hati-hati ia berjalan sedikit terburu mengelilingi belakang mobilnya, mencari Nisa.

Abi menghitung… tepat 5 anak jalanan, dua diantaranya seumuran Nisa, mengerubut bagai semut di hadapan buah hatinya itu. Hampir semuanya dari mereka memakai pakaian sisa pemilu kemarin, dengan warna putih yang sudah tercampur debu dan kelamnya asap kendaraan. Kulit mereka semua pun hitam bukti dari sebagian besar waktu yang mereka habiskan dengan tersengat teriknya sinar matahari di jalanan. Gitar-gitar kecil mereka yang dibuat ala kadarnya juga terserak begitu saja di tanah. Namun wajah mereka begitu ceria menyambut bingkisan yang dibawa oleh Nisa. Nisa pun terlihat tak kalah cerianya. Nisa sempat berbalik untuk mengambil sisa bungkusan dari mobil. Mereka hampir seperti tertawa bersama-sama, mencampur adukkan keceriaan yang mereka tunjukkan di sebuah siang yang panas itu.

“Abi sayang Nisa, selamat ulang tahun ya”, Abi memeluk Nisa dengan erat, begitu erat hingga rasanya ia tak mau melepaskannya.

======

For my dearest, buah hati “kecil”ku, Happy 24th Birthday😉

12 Januari 2010.

  1. bagus ceritanya ^_^
    semoga cepet-cepet dikasih yang kayak nisa😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: