Laut(ku)?

laut atau gunung ?
Tampaknya manusia terbagi menjadi dua kelompok ini, entah kenapa, jika dia suka laut dia akan tidak terlalu tergila-gila dengan gunung, dan sebaliknya ketika hatinya sudah tertancap di gunung, laut baginya tampak biasa saja.
Aku ? seringkali aku membayangkan menjadi pelaut yang melampui ombak dan menantang langit, tak tertanam di benak bayangan sebagai penakluk tebing dan jurang gunung
Kaki diterpa ombak dan membayangkan aku berputar bergerak mengikuti bumi ini, walau kusadari ini hanyalah keterharuanku, tapi begitulah rasanya rasa yang kubayang-bayang
Birunya langit cerminan birunya laut, ataulah birunya langit mengaca birunya laut, bagaimanapun kusimak birunya warnanya begitu padan dengan warna pantai yang merekah putih krem sisa kehidupan laut yang sekarang retak diterpa matahari
Jika kau bertanya apakah laut itu tempat menyepi? deburan ombaknya memberikan suara yang tak pernah aku dengar di tempat lainnya namun harus kusetujui perasaan ketersendirian selalu ada di balik gemuruh gelombang itu
Mungkin karena kusadar tak ada pemukiman di ambang laut sana, tak ada manusia yang menapakkan kakinya, tak ada jalan yang berliku padat di permukaan biru yang kuceritakan tadi
Aromanya selalu khas dengan garam kering menyengat tak ada pohon yang menghalangi angin itu datang dari laut menerpa wajah
Jika aku duduk di dalam bayang, angin itu selalu mampu membawaku ke alam tidur terlelap-lelap
Dan tiba-tiba aku ingin melihat biru itu lagi, mendengar suara itu dan menghirup angin itu
Aku ingin ke laut
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: