Terima Kasih ?

Suatu hari saya dipaksa berhenti di perempatan lampu merah, berdiri menahan motor saya tetap tegak sambil menunggu bergantinya lampu menjadi hijau. Dan dimulailah kehidupan lampu merah yang seringkali menarik perhatian saya. Ibu-ibu pedagang koran mulai bergerilya, pengamen setengah laki setengah perempuan mulai menampilkan genitnya ke tiap supir, dan anak-anak kecil bersenjatakan kemoceng menghampiri kaca-kaca mobil yang berdebu…

Seorang anak kecil 4 tahunan menghampiri pick up hitam yang dikendarai seorang kakek yang terlihat sumringah. Anak itu mulai menyibak-nyibakkan kemoceng nya ke kaca depan sang kakek. Sang kakek pun buru-buru mencari sesuatu di dashboard untuk diberikan ke anak kecil itu. Saya pikir uang, ternyata sepotong kue. Diserahkannya ke anak kecil yang mengadahkan tangannya.

Yang membuat saya sedih, anak kecil itu hanya bermuka datar saja, diam tanpa sepotong kata dan berlalu dari sang kakek. Sedih? ya karena di bayangan saya jika saya menjadi anak kecil itu, saya akan ber “terima kasih” atas pemberian yang merupakan bukti kebaikan hati orang lain.

Saya berpikir sedemikian kakukah hati mereka menghadapi kerasnya hidup ini ? apakah orang lain mengasihini mereka merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalankan jadi hak untuk mendapat kan ucapan “terima kasih” itu patut diabaikan, hanya sebuah basa basi yang kosong tanpa makna ? Mungkin yang ada di pikiran mereka hanya uang, sehingga ketika harus digantikan dengan barang lain akan menjadi tanpa arti ?

Saya tidak tahu yang ada di pikiran mereka. Istri saya sempat bilang bahwa ya itulah bukti kerasnya kehidupan jalanan, mana mungkin kita bisa berharap mereka mengetahui etika ketika benar salah juga masih menjadi pertanyaan buat mereka.

Namun di kemudian hari, ketika saya sudah tak terpikir tentang hal ini. Saya coba mencontoh kebiasaan isteri yang suka memberikan makanan, bukan uang ke anak jalanan. Saya belikan saja minuman kemasan. Ketika saya berikan, saya kembali tertegun. Anak itu hanya memasang muka datar dan menerima bagai itu sebuah kewajiban yang harus saya lakukan : memberi dan mereka berhak menerima.

Ssaya sendiri tidak setuju akan konsep mengemis. Tidak ada pendidikan yang bisa diambil dari mengemis. Kta tentunya tidak ingin menjadi bangsa meminta-minta, otak tumpul dalam usaha mencari solusi. Anak-anak yang merupakan modal bangsa malah di jalanan meminta dan terus meminta. Saya lebih mengapresiasi ketika mereka bekerja apapun bentuknya : jualan koran, minuman, pemulung……., ketika saya bersentuhan dengan mereka yang bekerja saya biasanya lebih mau bergerak untuk membantu mereka/

Kembali lagi, saya tidak mengiba-iba ucapan terima kasih. Hanya saja tidak bisa saya pungkiri bahwa saya sedih dan prihatin dengan kondisi hidup yang harus menggerus usia dan tenaga mereka di jalan……

  1. mungkin untuk sebagian orang sangat susah untuk bilang
    “terima kasih”
    gak hanya itu kan …
    kalimat yg sulit diucapkan itu “maaf y”

    rasae mungkin kek gengsi atau gimana gitu …
    ck akh …

    • Zakka
    • Juli 11th, 2010

    kayanya budaya bangsa mas…

    rasa2nya kalo di indonesia emang jarang banget ada orang bilang “terima kasih” atau semacamnya untuk pertolongan yang diberikan orang lain…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: