Jajah Menjajah

Pasti sudah pada tahu terhitung beberapa hari di Februari 2011 ini, asosiasi perusahaan film Amerika (MPA Motion Pictures Association – atau konotasi umumnya : Hollywood) berhenti untuk menyalurkan film-film hollywood ke Indonesia. Hal ini terkait dengan protes mereka tentang adanya bea distribusi yang notabene cuman ada di Indonesia.

Ada yang menyambut baik. Dengan alasan nasionalisme, mereka mengutarakan sudah waktunya Indonesia menunjukkan siapa yang berkuasa di negara sendiri.  Jangan mau Indonesia disetir oleh kepentingan asing.  Kata mereka : “salut terhadap pemerintah yang berani bertindak”. Diharapkan dengan tidak lagi dikuasainya bioskop Indonesia dengan produk Hollywood, film nasional akan merajalela.

Saya pesimis terhadap semua pandangan di atas. Pertama, seringkali pemerintah tidak pernah benar-benar tulus terhadap kebijakan-kebijakan nasionalis seperti diutarakan di atas. Ada masa pemerintah menghimbau menggunakan produk dalam negeri, tetapi untuk rapat kabinet saja menggunakan air mineral produk asing. Saya sendiri ragu pajak yang kita bayarkan sebenarnya telah digunakan dengan benar atau tidak , toh jalan-jalan dengan kondisi baik bisa saya hitung dengan jari, birokrasi tanpa biaya hampir mustahil di negara ini…..

Kedua, ini yang menurut saya yang paling menarik : apa benar kita rugi dijajah perfilman asing? Film hollywood sejauh ini menunjukkan kualitas. Mereka adalah pionir dunia perfilman global, dengan segudang talenta dan teknologi yang melebihi produksi negara lain manapun.

Menikmati perfilman Indonesia saat ini adalah sama saja kita di jajah oleh bangsa kita sendiri. Dengan tidak bermaksud diskriminatif, dunia media visual (sinetron, film) masih dikuasai oleh pemilik modal yang macam Ram Punjabi dan kawan-kawan (orang-orang India yang punya konglomerasi dunia hiburan Indonesia), yang entah kenapa saya lihat tidak ada keinginan sama sekali untuk meningkatkan kualitas perfilman nasional itu sendiri. Mereka dengan gampangnya menyalin ide, bahkan plek-plekan cerita naskah dan karakter hanya untuk menghasilkan dengan biaya rendah apa yang mereka sebut keinginan pasar. Miskin kreatifitas dan motivasi memajukan perfilman nasional, boro-boro bisa tampil ke luar negeri, perfilman nasional rasanya di negara sendiri jalan di tempat kecuali untuk beberapa orang yang saya yakin benar kecintaan dan keinginan memajukan dunia film Indonesia. Saya sendiri sempat terheran-heran keinginan mereka untuk membawa film “Petualangan Joshua” ke ajang penghargaan internasional wakakakakak

Buktinya : cobalah lihat betapa banyak film indonesia yang mencantumkan kata berkonotasi seks, nama hantu, atau bahkan kombinasi keduanya? Ketika saya membaca review “Arwah Goyang Karawang”  di Kompas, saya benar-benar miris bahwa sudah demikian parahnya dunia film Indonesia dikuasai oleh penguasa modal yang cuma ingin meraup keuntungan. Tahukah anda bahwa di film itu terdapat adegan perkelahian Jepe dan Depe (dua artis karbitan yang kualitasnya saya ragukan) asli yang sekedar dimasukkan karena bisa menjual, dan di tengah-tengah filme ada tulisan “INI ADEGAN ASLI”….. WFT!!!!

Saya lebih memilih dijajah oleh perfilman asing dengan kualitas yang akan memacu diri mereka sendiri untuk membuat film-film lebih bagus lagi daripada harus dijajah oleh bangsa sendiri yang hanya akan membuat film-film sampah tak layak tayang  yang hanya menguntungkan perut pemilik modal.

Solusinya bagaimana : di ekonomi, monopoli tidak akan pernah baik, sudah seharusnya persaingan dibiarkan berkembang dengan alami karena dengan persaingan itu timbul motivasi pihak plaku pasar untuk mencari yang terbaik. Biarkan perfilman Indonesia menggunakan film asing sebagai pelajaran dan benchmark, pemerintah silakan menaikkan pajak asalkan pajak tersebut kembali ke manfaat yang benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, gunakan koridor hukum yang baik dalam menaikkan pajak tersebut, toh saya baca di media juga ada kantor pajak yang ditanyai  tentang masalah ini malah tidak tahu apa-apa dan melemparkan ke badan lain… penyakiiiit penyakiiiittt…..

Dirikan sekolah film, berikan intensif insentif yang baik untuk dunia perfilman nasional, gunakan kekuasaan untuk membatasi keluarnya film-film sampah di atas, saya yakin bangsa ini juga punya kemampuan untuk bersaing dengan cara yang elegan …

    • anis
    • Februari 20th, 2011

    WFT atau WTF?
    intensif atau insentif?
    hehe tulisannya bagus kok😛

  1. ah film kecil boy, cuma beberapa puluh triliyun #eh. hehehe…
    berawal dari mengatur film, kemudian mari segera selesaikan pertambangan, dll…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: