Saya dan Manusia : Part 2

Itulah, buat saya memahami “manusia” itu sendiri sangat sulit. Saya sering menutup diri bahwa akan begitu banyak jenis manusia, bahwa antara dua manusia pasti akan ada perbedaan karakter, sifat, pandangan, pemikiran apalagi jika pengamatan itu disebar hingga yang bernama masyarakat. Ada yang keras kepala, ada yang memang aslinya pemalas, ada yang idealis, ada yang suka ngartis. Ada saya yang percaya proses penciptaan, dan ada orang-orang di luar sana menafikkan hal itu. Saya cenderung menutup diri terhadap perbedaan-perbedaan tersebut sehingga saya sendiri merasa saya kurang luwes
Karena kekurang luwesan itu saya sendiri sulit percaya artinya sahabat. Saya adalah orang idealis tentang konsep sahabat itu sendiri, dimana idelnya adalah seorang sahabat akan seringkali berkorban untuk kepentingan pihak yang lain dibandingkan dirinya sendiri.

Namun ketika saya mencoba bercermin, saya tidak akan bisa manjadi orang yang seperti itu, dan pengalaman saya bertemu dengan manusia-manusia lainnya, pada dasarnya masing masing akan punya kepentingan sendiri. Menjalin pertemanan selama bertahun-tahun, akhirnya toh akan runtuh ketika dihadapkan akan jalan pribadi yang memaksa saling tidak bertemu, saling tidak bertukar kabar, dan semuanya akan selesai dengan sendirinya. Pertemanan akan bisa berakhir dengan mudah, bagaimana mau bicara dengan tentang persahabatan.

Tapi itu saya, semuanya adalah tergantung akan kepercayaan orang tersebut terhadap sebuah konsep. Ketika banyak orang di akhir kesibukan harinya bertemu dengan teman-temannya, sekedar menikmati berkumpul bersama, atau berbincang, saya sadar sepenuh hati saya bukan orang yang terlalu nyaman akan hal tersebut. Bukannya saya tidak berusaha memahami konsep tersebut, namun entah mengapa saya merasa saya sendiri takut akan kecewa dengan harapan bahwa saya dapat menemukan “sahabat” atau sekedar “teman” sejati saya. Tidak. Dari pengalaman saya, semua akan berpulang ke kepentingan mereka masing-masing.

Saya hanya berusaha untuk menjadi orang yang tidak merugikan orang lain, maksimal menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain, bukannya menjadi orang yang menyebalkan, yang secara universal orang akan menghindar darinya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: