Kota Matahari Tenggelam

Posted in .Poetry, .Story on Oktober 25, 2009 by febrian

Ada peristiwa yang begitu menancap kemarin sore. Aku pandangi langit menjelang matahari turun dan bersemayam di ujung senja, terlihat sedemikian rupa apa yang kusebut kota matahari tenggelam.

Kalau aku tanya apa kata hati dan perasaanku tentang pemandangan yang baru saja tertanam di dalam benak ku kemarin sore, aku sendiri tak bisa menjawab. Haru, sedih, senang, kagum, benar-benar tak bisa di jelaskan.

Dibalik awan yang memerah terpercik cahaya matahari itu, timbul pola-pola yang berkelompok. Jikalau pernah melihat kemerlap cahaya lampu kota dari atas bukit pada waktu malam hari, mungkin sensasi yang ku rasakan seperti itu… tapi rasanya lain. lebih luas, lebih ramai, lebih indah…

Aku sudah berimajinasi bagaimana penduduk di kota itu saling menyapa, dengan segala aktivitas yang mereka lakukan, di atas awan. Kehangatan dan keramahan menyergap dari segala arah, imajinasi berubah menjadi terawang, terawang berubah menjadi lamunan, namun tak bosan-bosan aku sibuk dengan khayalanku sendiri, tentang kota matahari tenggelam itu.

Mungkin inilah yang dinamakan keindahan, ketika perasaan sendiri tak bisa mendefinisikannya…

Petualangan Sang Tokek-man

Posted in .Comic on September 29, 2009 by febrian
Petualangan sang Tokek-man

Petualangan sang Tokek-man

Mudik 2.0

Posted in .Story, .Word on September 19, 2009 by febrian

Tepat hari ini, tepat dua bulan pula saya bertemu bulan Ramadhan di negeri Belanda. Puasa di sini sungguh tak terbayangkan, bahkan awal Ramadhan tahun ini puasa dimulai sekitar pukul 4 dan selesai pukul 9 malam (saya sih pernah mengalami puasa dari jam 3 pagi hingga 10 malam, yaa nasib belahan bumi utara dan selatan, gak kebayang juga puasa di kutub yang gak pernah buka hihihi…).

Perbedaan

Dan baru Ramadhan tahun ini saya berkesempatan terawih di masjid PPME Amsterdam. Kesannya: wow.  Harus diakui kondisi ini berbeda dengan yang saya temui di Indonesia. Kalau di Indonesia, menjelang akhir Ramadhan shaf akan semakin “maju”, kebetulan saya ikut malam ke 27, pengunjungnya membludaaaaak. Bahkan ada yang dipaksa untuk menunggu berjubel di pintu masuk diomelin sang organisator karena tidak muatnya. Benar sekali bahwa kami adalah minoritas di sini, ketika kami mendapat nikmat untuk berkumpul bersama terasa suasana yang berbeda. Para jamaahnya kebanyakan dari Indonesia, Maroko dan Turki, ada juga orang Afrika, tapi yang mengagumkan dan membanggakan adalah : imamnya berasal dari Indonesia, negeri yang notabene jauh dari awal Islam disebarkan, dengan bacaan yang sungguh merdu…. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa perbedaan bisa membawa keindahan..

Namun jangan salah menyangka saya sudah begitu rajinnya ikut itikaf, sayangnya terbentur dengan kenyataan saya harus masuk kantor dan tempatnya yang jauh dari domisili saya di Haarlem. Ketika harus pulang ke kamar jam 7 pagi dan jam 9 nya harus kerja lagi, saya merasa saya masih kurang kuat hati. Moga-moga ke depannya lebih baik lagi. Kondisi yang “agak berdesak-desakan” juga jujur menyebabkan saya sulit berkosentrasi dan hanya jadi follower. Ah ternyata saya masih harus belajar lebih banyak lagi.

Namun kenyataan ini membuat saya bertanya-tanya : mengapa di Indonesia kondisinya bisa berbeda. Yang saya pikirkan selanjutnya  adalah tradisi mudik yang begitu populer di bangsa kita. Jarang-jarang saya temukan tradisi sama di negara lain (mungkin ada yang tahu? di Malaysia mungkin hihihi ). Entah kapan mulainya, tapi saya lihat tradisi ini seperti menjadi suatu keharusan di kalangan umat muslim baik di Jawa, Sumatra, Sulawesi, menjadi sebuah fenomena besar perpindahan manusia, baik fisik maupun secara ekonomi, dari kota-kota besar ke daerah-daerah. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung Yogyakarta, bahkan Malang, yang notabene adalah kota-kota pusat  bisnis ataupun pusat pendidikan (berkumpulnya para mahasiswa perantau, seperti saya dulu) menjadi sangat lenggang mendekati perayaan Idul Fitri. Semua mahasiswa, perantau yang mencari sesuap nasi tiba-tiba merasa berkewajiban untuk pulang ke daerah asalnya.

Sebuah Tradisi

Sebuah tradisi yang tidak buruk, kesempatan yang langka untuk menjalin dan membangun silaturahmi dengan keluarga jauh, jarang-jarang kesempatan ini datang. Namun ini juga menjadi bukti tidak meratanya pembangunan di tiap-tiap daerah di Indonesia, terpusat nya “peluang dan kesempatan” menjadi Jawa sentris,  salah satu pulau terpadat di dunia. Tidak heran juga kalo suasana mudik menjadi arus orang-orang keluar dari jawa dan nantinya ketika arus balik, menjadi arus orang-orang masuk ke jawa.

Namun ketika saya coba mengaitkan dengan pola pikir saya : mudik identik dengan kesempatan untuk liburan panjang, itulah yang saya rasakan dulu. Kesempatan untuk lepas dari rutinitas yang harus dihadapi sehari-harinya. Apalagi dengan adanya tunjangan hari raya yang cukup besar bagi orang-orang yang bekerja, semakin lengkaplah rasanya suasana liburan ini.

Berhubung dengan suasana liburan ini, pastilah kita sudah membayangkan hal-hal yang senang-senang ketika kita sudah tiba di masa liburan itu. Konsentrasi kerja jadi tidak jelas (itu yang saya rasakan setiap menjelang liburan:D).  Tapi kita mungkin jadi terlewatkan pikiran bahwa : kita harus bersedih ramadhan telah lewat…..kita menyambut bulan syawal dengan begitu gegap gempitanya padahal tidak ada janji Allah ttg apapun di bulan Syawal (CMMIIW). Diantara 12 bulan hijriyah, Ramadhan lah yang paling sepesial. Dan sudah seharusnya saya mengingatkan terutama diri saya sendiri, jangan sampai karena kita terbayang suasana liburan ini kita lalai dengan Ramadhan itu sendiri.Sekali lagi jangan salah, saya juga masih jauuuuh. Ini sekedar sebuah kata yang saya coba saya terapkan dan ingatkan ke diri saya sendiri.

Mudik 2.0 ?

Saya masih cinta mudik, dan saya juga pengen mudik (apa daya…..). Yak, saya ndak bisa mudik dengan mudahnya karena jarak, waktu dan “sumber daya” yang terbatas. Namun saya juga melihat bahwa mudik jaman sekarang agak-agak bisa terwakili dengan mudik 2.0, meminjam istilah web 2.0. Dulu tak terbayang metode-metode yang sekarang ini populer dalam mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri : Bikin foto spesial kartu lebaran (fotonya beragam, lucu-lucu dan ada juga yang bikin saya tersenyum geli) dan kemudian tag orang-orang yang diinginkan untuk menerima ucapannya. Tidak kalah juga status-status Facebook yang ramai dengan ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Jika dulu dengan adanya SMS-SMS lebaran yang membuat kita rindu dengan cara tradisional kartu pos lebaran, mungkin sekarang kita akan merindukan menerima SMS-SMS lebaran yang saya prediksi akan berkurang intesitasnya… beberapa bagian memang tergantikan seiring berubahnya media komunikasi….

Lebaran dan Idul Fitri tetap menjadi sebuah perayaan istimewa. Diiringi dengan doa bahwa  Allah menerima amal ibadah kita selama sebulan penuh Ramadhan, doa bahwa kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan, namun ada satu hal yang saya perlu garis bawahi untuk saya sendiri : Saya ingin di luar bulan Ramadhan saya tidak lebih buruk dari apa yang saya amalkan dalam menyambut Ramadhan, tidak ingin ini hanya sebuah fenomena sesaat, karena bulan yang istimewa ini hanya datang setahun sekali…

Haarlem, 19 September 2009

- Febrian

Mohon Maaf lahir dan batin, jika ada kesalahan yang saya sengaja maupun tidak sengaja, baik secara maya maupun tidak maya, Doa semoga barakah dan Rahmah Allah menyertai kita semua, Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT………..

Minal Aidzin wal Faidzin,

Eid mubarak jongens, taqabal Allah minni wa minkum salih al a’mal!

Change Theme Notepad++ 5.4

Posted in .Word dengan kaitan (tags) , , , , on September 18, 2009 by febrian

I have just downloaded Notepad++ 5.4 unicode, and I noticed that there is new folder called “themes” inside program’s installation folder. Notepad++ 5.4 has really nice new feature that I like it very much( and I am sure others designers like it as well).

My colleagues and I often change notepad++’s “stylers.xml” file. This file defines the style of our notepad++ environment. For example we want the background of the text editor to be black, instead of white (the default color). Those configurations is managed in this file.

Now, Notepad++ version 5.4, the latest of unicode version, provide a new feature, that text editor user can change the preferences above “on the fly”. We don’t need to change stylers.xml, renamed the original, and then restart notepad++ (those what we did in the past).

Go to Settings > Styler Configurator : Select Theme


Notepad++ Theme Selector

Notepad++ Theme Selector

Fortunately, there  are several themes available (Vibrant Ink, Ruby Blue, Plastic Code Wrap – my favourite, etc), their definitions are saved in “themes” directory inside application’s installation folder.  If you need to defines yours, copy one of the those xml theme file and rename it. Nice thing about styler configurator panel is it also acts as styler editor too. you can change the preferences of each style, and the changes that you made will stay, saved in the definition file.

So, have fun!

Oldies

Posted in .Word on September 11, 2009 by febrian

Lagi pengen  rajin nulis :D  Saya sering membuka postingan dengan sebuah pertanyaan, termasuk tulisan sekarang ini. Postingan kali ini diilhami oleh satu pertanyaan penting ndak penting :

Masih kah anda rajin membuka profile Friendster anda?

Cepat juga ya situasi berubah, sama halnya ketika kita beralih dari Yahoo ke Google, dari Yahoo mail ke Gmail, dari SMS ke Internet Messenger. Yah itulah fenomena dari teknologi. Semua berada di jalur cepat, yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan “umat manusia”, akan tersingkir dengan cepat.

Saya ingat menjelang tahun ke dua masa kuliah saya di ITB, Friendster tiba-tiba begitu populer. Semua mendadak aktif  di laboratorium komputer, tentunya untuk mengecek profile, testimonial, upload foto, sampe terkenal foto friendster dengan ciri khas muka menghadap ke atas ( menghilangkan efek pipi bulat seperti yang saya punya ) dan diambil dengan hp resolusi seadanya.  Bahkan aktivis percumian ITB pun dibuat resah karena bandwith ITB tampak dipakai sebagian besar untuk mengunjungi website pertemanan satu ini. Menurut rumor, Friendster adalah salah satu website yang diblok aksesnya di ITB.

Beranjak ke 2007, setelah fenomena Friendster (FS), tiba-tiba muncullah F yang lain, FB (Facebook). Fenomena nya lebih hebat lagi, bahkan rasanya hampir merasuk ke segala sendi kehidupan, dipadu-padukan dengan bidang-bidang lain, dunia jurnalistik, penelitian, psikologi, asah otak, entertainment, semua mencoba memanfaatkan Facebook sebagai sebuah sarana dan media. Dan seperti biasa, di kalangan masyarakat Indonesia, pertengahan tahun 2008, FB merebak populer dengan cepat (walau agak telat, sekitar 7 bulan setelah saya kenal di Belanda, FB baru mulai dikenal di Indonesia). Ada masa-masa dimana saya menerima puluhan request teman dalam sehari saking beranjak populernya situs pertemanan ini.

Karena Friendster dan Facebook menggarap pasar yang sama, saya rasa harus ada satu pihak yang mengalah. Saya adalah orang konservatif, butuh waktu cukup lama untuk mengalihkan perhatian saya ke Facebook. Akhir 2008 lalu saya masih lebih rajin mengecek Friendster dan mengabaikan pesan-pesan dari Facebook.  Sekarang? label email saya tentang friendster telah teronggok tersembunyi di kumpulan label-label email saya yang tak pernah saya baca hahahaha. Login ke friendster pun sudah tak ingat lagi kapan saya terakhir melakukannya.

Friendster pihak yang kalah itu jelas. Facebook unggul dengan didukung aplikasi yang dibuat oleh para developer. Ada aplikasi macam kuis, seberapa jauh kamu mengenal saya, menjadi petani jadi-jadian, membuat penggunanya betah berasyik masyuk di depan komputer (akhir-akhir ini saya sering memakai kosakata “asyik masyuk”, tah papa…). Menurut saya Facebook sendiri sangat “web 2.0″ aware, ditandai dengan penggunaan Ajax yang sangat user friendly. Hampir semua aktivitas di dalam facebook bisa dilakukan dengan nyaman, foto-foto pun bisa diupload dengan cara menyenangkan.

Facebook sendiri tidak segan-segan merefresh tampilannya, memperbaharui dirinya sendiri yang menurut saya sangat dibutuhkan, terbukti saya lebih suka dengan tampilan yang sekarang dibanding dengan tampilan perkenalan pertama saya dengan si doi, wall penuh dengan pesan-pesan dari aplikasi. Kesesakan informasi waktu itulah yang membuat saya masih setia dengan Friendster yang masih fokus dengan profile dan personal antara pengguna. Namun penyegaran tampilan oleh Facebook, membuat saya kagum betapa Facebook mampu mencermati kebutuhan dan keinginan penggunanya, dan kemudian merespons nya dengan cepat.  Pesan-pesan ndak jelas di wall dihilangkan walau tetap bisa diakses, membuat saya kemudian selingkuh ke FB karena segala kemudahan yang diberikan. Perselingkuhan ini juga tidak mengesampingkan alasan kepopularitasan Facebook sendiri. Teman-teman rata-rata sudah beralih ke Facebook. Popularitas di dunia social networking menjadi “make sense” menilik bahwa tidak ada gunanya kita cuap-cuap dan rajin mengakses kalau ternyata tidak ada yang menggubris dan tidak ada yang digubris ^^.

Friendster? miris (ini kosakata lain yang akhir-akhir ini sering saya pakai). Saya melihat ada usaha dari Friendster untuk memulai perubahan, contohnya usaha untuk mengintegrasikan aplikasi di dalam dunia perfriendsteran.  tapi mungkin bisa dikata sudah terlambat… orang-orang sudah sayang dengan mainan barunya. Walaupun kadang saya masih heran, ada masa Friendster malah dijubeli dengan iklan-iklan norak yang asal pasang dan ndak sinkron dengan tampilan Friendster itu sendiri, berbeda dengan Facebook yang menampilkannya secara elegan (google way). Kok si Friendster ini tidak berbenah tapi malah carelessly membiarkan penggunanya melenggang pergi.  Tampilan iklan di Friendster saya amati sedemikian besar dan mengalihkan perhatian dari isi website itu sendiri.

Terakhir juga saya lihat, tiap akses menu dan posting di friendster sendiri masih ditandai dengan posting dan refresh seluruh halaman, mengabaikan teknologi ajax yang begitu user friendly. Ketidak sigapan menghadapi tantangan dan teknologi baru inilah yang membuat Friendster bagai menggali lubang kuburnya sendiri. Sekarang ini saya tidak yakin bahwa masih banyak orang yang mengakses Friendster, terutama masyarakat Indonesia. Ketika Facebook semakin populer, bahkan ayah saya telah terdaftar, Friendster akan menjadi masa lalu, tenggelam bersama cerita-cerita usangnya teknologi yang lain…

Jadi begitulah teknologi, semua adalah tentang kebutuhan pengguna. Yang tidak berhasil memenuhinya akan tersingkir. Friendster menjadi pihak yang kalah secara “waktu”, dengan datangnya pendatang baru yang lebih menarik dan berkilau, Friendster telah takluk, minimal untuk saat ini….Friendster suatu saat akan menjadi kenangan di kalangan oldies, mengingat masa-masa jayanya.

Sudahkah anda login Facebook hari ini? Saya sudah. Sudahkan anda login Friendster hari ini? errrr……………..

Dunia, antara internet dan kenyataan

Posted in .Word on September 10, 2009 by febrian

Saya sering merhatiin kalo komentar di detik.com dan kompas.com beda “kelas”. kalo di detik, komentar negatifnya umumnya lebih norak dan ndak berkelas, mengganggu suasana menikmati berita hehehehe

Dan ini yang bikin miris si.  Pagi ini saya membaca berita tentang awetnya jazad orang yang terkenal sholeh, sederhana dan pintar dalam ilmu beragama semasa hidupnya. setelah 26 tahun dikubur dan jazadnya akan dipindah, ternyata masih utuh, mengesampingkan fakta bahwa kawasan di sekitarnya adalah kawasan yang berupa rawa-rawa dan becek sehingga alasan utuhnya jazad karena faktor tidak ada nya organisme bisa terbantahkan.

Membaca cerita tersebut ya terang saja dalam hati : Subhanallah kuasa Allah SWT, ada hal yang ndak bisa dijelaskan oleh akal manusia. Saya berikan kekaguman dan hormat ke pada beliau jika memang amalan di masa hidupnya mampu melindungi nya di alam kubur sana. Nah saya lihat di bawah berita tersebut, ada 41 komentar… penasaran, saya buka lah kolom komentar tersebut.

Miris.  Beberapa komentar bodoh yang saya baca. Dengan alasan “ketidak ilmiahan berita”, ada beberapa komentar yang dengan tanpa hati berbicara : “mungkin dulunya diolesin minyak babi”, “banyak makan formalin ya makanya awet”. Mungkin mereka merana karena akal pikiran mereka diinjak-injak dengan bukti yang jelas. Bahwa apa yang mereka percaya terbantahkan, tapi karena mereka tidak mau menerima, sekenanya lah mereka mengait-ngaitkan sebuah cerita yang menurut saya inspirasi dan hidayah ke hal-hal yang ndak mutu dan ndak jelas. Sejujurnya saya merasakan itu sebuah insult atas perasaan “kagum dan hormat” saya ke beliau, kepercayaan saya…

Dunia memang berubah, ketika dulu manusia berlomba-lomba mencari Tuhan, sekarang mereka dipertuhankan oleh dirinya sendiri, ilmu pengetahuan, uang, kekuasaan… Saya ndak ingin terbawa begitu rupa, saya masih ingin percaya saya punya tujuan singgah di dunia yang fana ini, tidak hanya untuk bekerja mencari uang untuk dihabiskan di masa liburan terus kembali lagi bekerja, liburan lagi…

Mungkin yang berkomentar “bodoh” itu sudah kehilangan hidayah, biarlah dia berasyik masyuk dengan akal pikirannya sendiri yang dia agung-agungkan. Tapi dengan ada nya internet, saya rasakan bahwa usaha  mereka untuk melampiaskan atau pun menyebar luaskan kekeraskepalaan mereka  akan lebih mudah : tulis komentar-komentar bodoh, tulis artikel provokasi, sebarkan penghinaan….

Teman saya pernah berkata bahwa “Internet itu tempatnya berkumpul orang yang tidak tahu”. Jadi menurut saya harus pintar-pintarlah kita memilah informasi, Dunia sudah berubah, kita juga akan berubah, tapi semoga kita berubah ke arah yang lebih baik.

Saya mungkin menulis dengan emosi, namun sebenarnya yang saya takutkan adalah bahwa saya sebenarnya orang yang tahu tapi belum beranjak untuk berbuat….

Bi Anis punya pacar!

Posted in .Story, .Word on Agustus 15, 2009 by febrian

Benere agak canggung juga nulis postingan tentang ini, ya rasanya sebuah peristiwa besar sehingga terlalu sulit dijelaskan dengan kata-kata. tapi tanggal 12 Agustus 2009 kemarin, kami merayakan 1 bulan masa pacaran kami!

“Bi Anis punya pacar!”, secara spontan diteriakkan oleh si Alif, keponakan kami, putra A Enang. Saya sih senyum-senyum aja. Mungkin dipikiran seorang anak kecil : ini siapa to kok tiba2 sering muncul di rumah, mana minta-minta makan hahaha.  Yah semenjak bulan juli kemaren memang frekuensi saya main ke rumah negla meningkat dengan tajam, bahkan menginap segala hihihi.

Keluarga bahkan sempat menemani saya berkunjung ke rumah negla, secara resmi dimulai 3 oktober 2008 lalu. Ayah, ibu, kakak saya datang membawa beberapa oleh2 dari Malang dan mengutarakan maksud saya secara resmi, dianya hanya menjawab dengan pipinya yang memerah, kata sang kakak. Dan kami kembali pada 11 Juli 2009, kali ini dengan pasukan lebih lengkap. 12 bude dan bulik dari keluarga ibu ikut semua! Bahkan teman-
teman, Bram Rukma dan Ukas ikut pula menyertai, rukma terutama saya serahi tugas sebagai “unofficial photographer”.  Rombongan datang pada sebuah acara sederhana yang biasanya disebut oleh orang dengan “seserahan”, ada pisang, ada kelapa, baju, kosmetik, wis saya ndak terlalu ngerti, tapi intinya sebagai acara silaturahmi antara dua keluarga.  Saya datang dengan seragam batik rapi jali, tapi memang gak sempet ketemu sama teteh, disembunyikan sebelum hari besar katanya.

Hari H, 12 Juli 2009! Setelah subuh, bahkan dari malam sebelumnya, perasaan saya hanyalah : Tegang. Percayalah kawan, ternyata ketika dari jauh hal yang rasa-rasanya bisa dilalui dengan lancar, ternyata begitu tiba waktunya… dag dig dug ndak karuan…. Kami harus menghadapai sebuah acara seremoni resmi yang nantinya mengubah kehidupan kami berdua, wah. Buat saya juga adalah sebuah tanggung jawab bahwa saya akan menjadi teman seumur hidup, sahabat, rekan, partner, kekasih, dari seseorang yang sebelumnya hampir asing. Memang sempat tertegun membayangkan kesulitan yang memang akan dan pasti dihadapi sebagai bagian dari cobaan pernikahan, tapi saat itu juga saya percaya pasti ada kemudahan karena memang telah ada janji dari Allah SWT, semoga kemudahan diturunkan untuk kami.

Dibalut * haduh bahasanya * pakaian adat berwarna putih, bercelak hitam, berbedak putih, yang mengingatkan saya pada pemain ludruk di masa TVRI, saya mulai keluyuran antara kamar dan ruang utama untuk menghilangkan ketegangan. Teman-teman saya, Yus Rukma Bram Ukas Cuco Dhean Neni Dini Lely (you are the best guys!), juga datang dan sempat menyaksikan penantian saya :p, mereka nantinya harus menemani saya berpakaian adat karena menjadi bagian dari pagar ayu dan pagar bagus di acara resepsi nanti haha.

Akhirnya saya dijemput! pihak wakil pemerintah, keluarga perempuan sudah siap, sehingga kami dari pihak keluarga laki2 juga harus menyiapkan diri pula. Akad akan diadakan di gedung dimana walimah juga diadakan. Setelah melalui sebuah sambutan hangat pihak keluarga perempuan, akhirnya masa-masa yang menentukan tiba juga. Saya didudukkan berhadapan dengan wali si teteh,  A Agus sebagai kakak tertua.

Doa demi doa, khutbah demi khutbah, sungguh saya ingin resapi menjelang masa2 yang menentukan itu. Dan ketika penghulu mulai menyiapkan surat, saya percaya saat nya telah tiba :D . Sempat diulang karena pihak wali terbalik menyebut nama saya (Bram cerita dari pengalaman kakaknya, bahwa wali tidak kalah tegangnya dibanding  pengantin perempuan lo), terucaplah kalimat itu dari mulut saya

“Saya terima nikahnya………

SYAH!!!

wow, secara sekejab situasi berubah, ketegangan menjadi keceriaan yang tiada tara.  saya menghadapi situasi baru bahwa sekarang saya sekarang suami seseorang… tapi tidaklah lengkap bila sang bintang lapangan satunya belum muncul… MC nya pun mulai menggoda ” cari dong ” …dan dari belakang ada sosok memakai baju putih senada dengan saya, cantik… dan saya dengan hati berbunga-bunga menggandeng tangan si teteh.

12 Juli 2009

Wah gak mau ngalor ngidul ah, takutnya menjadi narasi yang bertele-tele, itu kenangan yang telah berlalu sebuah kebahagian yang saya ingin simpan dan ingat terus, rasanya masih belum percaya bahwa ternyata kami sudah membentuk satu keluarga kecil :)

bahwa ketika dalam masa bahagia ini kami harus berpisah untuk sementara, saya harus kembali ke belanda dan dia di bandung, sama sama berusaha untuk menyelesaikan amanah dan mengejar cita-cita…

bahwa kami masih perlu belajar untuk menjadi seorang teman, sahabat, rekan kekasih, ayah yang baik, ibu yang baik (sampai berpisah beberapa lalu, ternyata belum muncul tanda anggota keluarga ketiga kami :D . mohon doanya), dan juga anak yang berbakti…

bahwa nantinya waktu akan membuktikan kami manusia yang masih jauh dari sempurna dengan kesalahan, semoga kami akan saling mengerti dan memahami….

saya sayang si endut, dan semoga kami berdua selalu dalam ridho Allah di kemudahan maupun kesulitan…

dan bi Anis pun punya pacar! :D

Fungsi Signifikansi Pertemanan dalam Facebook

Posted in .Excitement, .Stupidity on Agustus 2, 2009 by febrian

Eh ini bukan fungsi sebagai mana di tampilkan dalam kamus dengan arti “manfaat” ya. Ini kalo misalnya di fisika ada fungsi gaya :  bahwa semakin besar massa dan percepatan akan semakin besar gaya yang dihasilkan sebuah benda.

Jadi yang saya maksud begini. Dari hasil pengamatan seorang pengguna Facebook yang “dulunya” suka ngeadd atau nerima siapa aja yang ngerequest untuk jadi teman kita, secara pribadi, saya ingin mengajukan sebuah fungsi signifikansi pertemanan f(p) yang bisa dijabarkan sebagai berikut : Jika n adalah jumlah teman, dp adalah jarak kedekatan kita dengan seorang teman, f(p) adalah signifikansi keberadaan seorang teman, maka :

Di Facebook semakin banyak teman yang kita punya akan semakin less significant (gak penting) keberadaan soerang teman.

f(p) = dp/n

Tujuan facebook sendiri apa to? buat saya sih tahu keberadaan dan keadaan teman-teman, apalagi yang dah lama gak ketemu. Bagaimana caranya? dengan melihat status-status mereka, foto-foto mereka, cerita-cerita mereka dari news feed yang bisa kita akses seketika kita membuka halaman facebook. Ada yang foto narsis, status gak penting tapi emang itu kadang yang menjadi pembicaraan menarik, balas membalas status, liking (dengan mengklik tombol like this).

Nah dengan semakin banyak daftar teman yang kita punya, saya merasa semakin banyak informasi yang berjejal di news feed saya. Konsekuensinya saya jadi ndak bisa memilah mana yang seharusnya bisa menjadi penting. Orang pinter bilang semakin banyak informasi yang didapat, manusia semakin tidak bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting (duh seharusnya ini ada referensinya, lupa siapa yang ngutarakan, saya gak pinter comot referensi nih..).

Dari saya sendiri, akhirnya status teman-teman dekat saya yang baru saja diupdate (kadang itu penting dan memang saya ingin tahu) jadi terlewat saya baca. Terlewat karena informasinya dengan cepat tertumpuk di bawah status orang-orang yang lagi rajin ikut kuis, atau abis ngupload foto narsis (yang ini beneran ada, saya gak kenal lagi orangnya, tiap berapa hari sekali ada selalu update an foto narsis terbaru dia, dan dia cowok! dengan senang hati saya remove dari list hehehe).

Anggap saya sinis (mungkin saya mang kayak gitu orangnya, jutek pula hahahaha) tapi mang kenyataan itu lah yang terjadi walo mungkin itu hanya berlaku buat saya. Saya bukan orang yang punya banyak teman tapi jika seseorang dengan senang hati mau menjadi teman main, diskusi dan berbagi, saya akan valued kehadiran dia.

Tapi ah jangan pandang ini terlalu serius, beneran mungkin ini dari saya sendiri. Mungkin saya harus memilah-milah dan memilih orang-orang yang ada di daftar teman saya. Menurut anda?

Terbang Separuh Bumi

Posted in .Story on Juli 27, 2009 by febrian

Amsterdam – Jakarta, kalo dilihat-lihat di globe, dua kota tersebut sebenar nya terpisah hampir separuh dari diameter bola planet kita tercinta ini. Saya pun harus menempuhnya selama kurang lebih 15 jam dengan menggunakan pesawat terbang, yang entah bertipe boeing atau airbus, sayangnya saya tidak terlalu memperhatikan padahal sebenarnya cukup menarik kalau saya punya informasinya.  Sudah dua setengah kali saya bolak-balik juga antara dua kota itu, dan dua maskapai pula yang saya gunakan untuk bepergian : Singapore Airlines dan Luthfansa.

Singapore Airlines terkenal dengan pelayanan yang menyenangkan, dan memang terbukti. Namun dengan berat hati harus dikatakan pelayanan berbanding lurus dengan harga yang harus dibayarkan untuk menebus harga tiket nya. Tiket Amsterdam – Jakarta retour berharga 1200 an Euro ( pada tahun 2008), barangkali bagian yang cukup besar dari ongkos itu digunakan untuk membayar pajak bandara Schipool yang katanya lebih mahal dari pada bandara lain, frankfurt misalnya. Maka di sini juga cukup terkenal bahwa kalau ingin pulang murah berangkat saja dari Frankfurt, tapi ada teman saya yang bersumpah : ndak mau lagi kalau harus berangkat dari frankfurt, karena yang dirasakannya adalah berat di akhir. Sebelum terbang ke jakarta, Amsterdam-Frankfurt ditempuh dengan menyenangkan karena sudah terbayang  sampai di Indonesia, berkumpul bersama keluarga, liburan, namun lain halnya dengan Frankfurt-Amsterdam yang harus ditempuh dalam perjalanan balik ke amsterdam, ketika yang terbayang adalah pekerjaan yang dulunya ditinggalkan, kuliah yang harus ditempuh…. She said it was the worst nightmare hahahaha….

Ketika saya terbang dengan menggunakan Singapore Airlines, masalah tidak terlalu banyak dijumpai. Duduk di pesawat, menonton film, menerima senyum ramah dari pramugari, ruang yang cukup lebar antar kursi, semuanya cukup menyenangkan.  Transit di Singapore nya juga dilalui dengan mulus, walau pada dasarnya cukup sebal juga dengan segala prosedur di Singapore. Orang-orang di sana cukup kaku, dan tidak ramah. Saya harus mengecap pengalaman membongkar hand luggage saya untuk di jadikan di satu tas dan satu tas kosong lainnya harus masuk bagasi (buat apa coba, toh hanya tas kosong….).

Dengan menggunakan Luthfansa, ceritanya lain lagi …………… banyak hal kejadianyang terjadi khususnya ketika saya balik ke Indonesia Juli 2009 ini. Kalau dikatakan “ada uang ada barang” mungkin ada benarnya juga. Dengan Luthfansa saya ‘cukup’ membayar 850 an Euro untuk tiket retour Amsterdam Jakarta. Saya memang berekspektasi bahwa dengan harga yang lebih murah dari Singapore Airlines, semuanya akan tidak lebih mudah, tapi saya benar-benar ndak berharap ada kejadian aneh-aneh seperti yang saya alami kemarin-kemarin.

Pertama-tama : penerbangan “Amsterdam – Frankfurt was Cancelled” . Apa-apaan ini… padahal saya harus mengambil penerbangan Frankfurt – Jakarta dalam waktu 2 jam saya transit di Frankfurt. Setelah sedikit berargumentasi dengan orang yang menyerobot antrian di counter luthfansa (malah bukannya berargumentasi dengan petugas luthfansanya hehehe), saya dapat tiket penerbangan berikutnya dan memangkas waktu saya transit jadi hanya 50 menit. But it wouldnt’s stop give me trouble. Pesawat berikutnya ini ternyata juga di delay! dengan hitung-hitungan waktu delay ini, habislah kesempatan saya untuk menyusul pesawat Frankfurt – Jakarta di Frankfurtnya. Tapi kita ikut saja dengen penerbangan ini dengan janji manis bahwa kalau tidak terkejar penerbangan ke jakarta nantinya, penumpang akan diinapkan di hotel. Ternyata di Frankfurt sana, setelah berlari-lari antar terminal di bandara yang panjangnya mencapai 3 kilometeran, pesawat ke jakarta benar sudah lepas landas, dan kita diberitahu bahwa harusnya kita mengambil pesaawat ke bangkok!! hah, kok ya ndak diberitahu sebelumnya?? Akhirnya kita diurus pihak luthfansa dan didudukkan di pesawat menuju Kuala Lumpur (untung kejadian ketika suasana hati menyenangkan terpikir untuk bertemu keluarga di Indonesia, kepikirannya : bisa nambah portofolio menginjakkan kaki di negeri orang hehehe), dan dari Kuala Lumpur, “katanya” kita akan diterbangkan ke jakarata. Yah kita terima saja.

Pesawat ternyata menyempatkan diri mampir di Bangkok (nah kan bisa tambah portofolio ke negeri orang). Disini kita ternyata harus turun juga walau sebenarnya nantinya kita akan naik pesawat yang sama, jadi ndak bisa menunggu di pesawat saja. duh kebayang pemeriksaan-pemeriksaan itu. Tapi jedanya cukup lama juga ternyata, satu jam berhenti. Saya dan dua teman dadakan yang ketemu di satu penerbangan ke jakarta kepikiran untuk mencari oleh-oleh di sekitar bandara bangkok. Dan ternyata kita sama-sama bodor, ndak sadar nama-nama kita dipanggil untuk naik pesawat secepatnya hihi. jadilah kita bertiga lari-lari lagi di Bandara Bangkok.  Duh dari tadi lari-lari lagi, dan naik pesawat dalam keadaan berkeringat. Beberapa pramugari cukup curiga saya terkena flu babi dengan penampilan saya yang cukup pias dan berkeringat, wah kalo ini mah bukan flu teh, kurang olahraga aja hehehe.

Di Malaysia, masalah tidak berhenti begitu saja. Kita tidak terdaftar dalam penerbangan ke Jakarta! gimana to Luthfansa ini… haduuh. Untungnya masalah dapat diselesaikan dengan dialek melayu yang cukup medok, pihak Malaysia nya yang harus pontang-panting kontak pihak luthfansa dan mencarikan kita kursi kosong di penerbangan selanjutnya ke Jakarta, dan alhamdulillah kita bisa terbang ke jakarta hari itu juga ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saya sendiri was-was karena sebenarnya di Soekarno Hatta saya harus mengambil penerbangan lokal ke Surabaya atau Malang, jika sampai di jakarta pukul 10 malam tampaknya penerbangan yang kiranya bisa saya ambil sudah tutup loket..

Benar juga, sampai di jakarta sekitar jam 10 malam dan penerbangan lokal sudah habis. Waduh.  Dan Bagasi saya hilang!! Ternyata bagasi saya dan seorang menir dari Belanda yang tertinggal di Frankfurt, ndak masuk ke pesawat yang mengantarkan kami ke jakarta.  Ketika melapor ke Lost and Found Soekarno Hatta, laporan kami dicatat dan dijanjikan bahwa akan dikirim ke Malang lusa paginya karena dari pihak Luthfansa baru bisa menjanjikan barang akan tiba esok hari. Dari situ saya sendiri masih punya masalah : dimana saya akan menginap  malam ini?? ah saya putuskan menikmati malam saja di Soekarno Hatta sebagai usaha menghemat, toh sudah kepalang basah bertualang pontang-panting, sekalian saja diteruskan. Dan jadilah malam itu saya dihibur film “Crouching Tiger Hidden Dragon” yang sedang tayang di Trans TV malam-malam dan kebetulan belum saya tonton.

Esok paginya saya harus pontang-panting lagi, pesan taksi sana sini dari terminal 2 ke terminal 3 dan kemudian ke terminal 1 untuk mencari tiket ke Surabaya atau ke Malang. Akhirnya ketemu juga dengan “jodoh” pesawat ke Malang jam 7 pagi. Mata saya sudah hampir terlelap dan terkantuk-kantuk, demi sebuah perjalanan yang mengantarkan saya dari kota nun jauh di sana ke kota Malang tempat kelahiran saya, di negeri yang indah tercinta ini……….

Eby’s Big Adventure [Antwerpen]

Posted in Uncategorized on Mei 10, 2009 by febrian

Sabtu jam 11 April 2009, jam 5 pagi saya terbangun. Tidur malam itu tidak terlalu nyenyak, seringkali terjaga di tengah-tengah tidur. Malam tidak terlalu cerah karena semalam selalu diliputi gerimis. Saya terjaga dengan cepat, mungkin karena pada dasarnya saya masih ada di alam luar. coba kalau ada selimut hehehe, ah tapi bukan itu yang saya cari di perjalanan ini. saya pikir saya harus melanjutkan perjalanan sekarang juga karena takut terlalu siang sesampainya di tujuan. Tujuan saya kira-kira 20 kilometer lagi. total jarak yang saya tempuh dengan sepeda rasa-rasanya adalah jarak Malang Surabaya.

Pagi itu ternyata langit masih tidak bersahabat. Gerimis masih mengundang wahaha, yah saya harus menepi dulu sekalian mengistirahatkan kaki yang sudah geol-geol (lemah kamu feb, lemah!). Saya harus melewati Brasschaat, Merksem, sebelum sampai di antwerpen.

Sepanjang pagi itu saya merasakan waktu berlalu begitu lambat. menyenangkan sebenarnya, karena saya pikir waktu yang saya habiskan jika seharian ada di dalam selimut terasa sia-sia, tapi dengan menikmati pagi ini saya melihat dunia di luar saya berjalan mengikuti saya. Jalan masih lurus tak menunjukkan ujung huhu. Di sepanjang jalan saya mengamati rumah-rumah orang belgia. Rupanya berbeda dengan apartemen milik orang belanda yang kotak-kotak standard, di sini rumah-rumah berpekarangan luas, dan rumahnya lebih menyerupai rumah tradisional orang Belgia jaman baheula, yang mirip rumah-rumah yang ada di komik asterix. suasana malah menyerupai daerah puncak, dengan pohon pinus tinggi menjulang, benar-benar beda dengan suasana belanda padahal sebenarnya wilayah ini hanya sejengkal dari Belanda (di peta sih jaraknya seupil hehehe).

2 Jam berlalu setelah saya memutuskan melanjutkan kembali perjalanan. pukul 7 pagi saya sampai di Meksem. saya benar-benar remuk redam, pikiran dah ndak jelas arahnya mau kemana, tapi saya pikir saya harus bertahan. Meksum… mengecewakan. kota tua kumuh isinya cuma rumah-rumah penduduk. dan sepii, tidak ada orang berkeliaran, hanya satu orang gendut naik sepeda sambil menggotong tas segede gabon ada di jalan. Sempat kehilangan orientasi harus ke kiri atau ke kanan, saya ikut insting aja ke kiri, dan meyakinkan diri dengan mencari petunjuk di peta trem setempat. Melewati Sport Palais, sekarang saya yakin ada di arah yang benar. Tapi, dimanakah Antwerpen Centraal Station? Kalau anda ada di kota-kota eropa, untuk mencari pusat kota sebenarnya cukup gampang. cari saja stasiun kereta terdekat. pasti centrum nya ada di dekat-dekat itu. Sempet tanya-tanya orang, ternyata malah saya nyasar cukup jauh. yah saya putuskan ikut jalur trem saja yang saya yakini akan membawa ke arah stasiun.

Semakin mendekat ke arah stasiun, saya meraih asa itu. Antwerpen kota yang cantik! semakin dekat, saya melihat kota yang tertata dengan rapi dikelilingi gedung tua. Dan ternyata stasiunnya sendiri sangatlah megah dan elok. saya pernah mendengar Antwerpen sendiri sempat menjadi pusat perkereta apian eropa, ternyata benar adanya, stasiun Antwerpen seperti pusat daya tarik yang menyedot perhatian orang. Di sebelahnya bahkan ada kebon binatang, wow. di kanan kiri saya lihat bertebaran toko berlian. nah yang ini mang ndak kalah terkenalnya, Antwerpen adalah sebuah kota pusat perdagangan berlian. bahkan ada berlian dengan Antwerpen Cut.

Saya masuk ke stasiun nya yang megah, saya harus mencari informasi untuk pulang (saya sudah memutuskan untuk pulang dengan kereta, karena membayangkan saya harus pulang dengan sepeda… tak sanggup oh tak sanggup………) . Menikmati wafel berlapiskan coklat nyum dari penjual yang jutek. Di dalam saya mendapat informasi bahwa naek kereta ke Maastricht tidak cukup mahal. humm.

DSC_0052

Batavus sudah melancong kemana-mana



DSC_0061

Stasiun Bagian Dalam

DSC_0064

Pusat Kereta Api Eropa Dulunya

Toh saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dulu di antwerpen. Benar-benar kota yang cukup menawan. mengingatkan saya tentang Paris. Jadinya saya lari kemana2 di kota ini, senangnya…. jarak tempuh dengan menggunakan sepeda terasa pendek, jadi sangat nyaman. kotanya juga datar, dengan bantuan peta yang tersebar di mana-mana, saya menemukan banyak obyek bagus. ada groote markt, museum maritim, taman kota yang cukup cantik, anak2 bule yang lagi maen di taman wehehehe.

Pusat kotanya menarik, jalan2 besar dari batu batako, dengan restoran yang kecil tp menyenangkan di kanan kiri. 

DSC_0070

Pusat Kota

Groote Markt nya bagus, ada patung besar bernama “Statue of Brabo and the giant’s hand”, jadi ada air mancur keluar dari bagian-bagian tubuh patung itu yang beradegankan pergelutan raksasa, monster laut, dan mansuia, ntah vava… tp tampaknya di sinilah pusat penduduk berkumpul dan menikmati sore. lapangan besar dengan dikelilingi katredal yang saya ndak apal apa aja namanya hehehe 

DSC_0090

Groote Markt

Mirip dengan Amsterdam, kota ini ada di pinggir kanal, juga ada di muara sungai besar yang  berujung ke laut utara.  Jadinya ndak heran kalo ada museum maritimnya. kapal-kapal dari jaman beheula di parkir di sini tp ndak terlalu banyak juga yang menarik.  Cuman secara kesuluruhan tempatnya menyenangkan juga karena di bangun di atas benteng / fort gitu

DSC_0107

Pinggir Kanal

DSC_0110

Museum Maritim

Taman Kota nya besar, dengan pohon-pohon yang rimbun. sempat menututp hidup karena bau toilet umum yang eeeemmmh, penduduk saya yang lihat saya mengernyitkan hidung * istilah baru * cuman ketawa aja. dan di taman itulah insting pedopil saya mulai bermain, jeprat jepret anak kecil yang lagi maen di ayunan dan wahana lain. lucunyaaaa… ada anak kembar juga yang lg doyan-doyannya eksplorasi dunia baru mereka. tp berhubung lensa saya lensa udik, gak bisa terlalu dekat juga ngambilnya, takut disangka penjahat beneran yang doyan sama anak-anak huhuhu. 

DSC_0118

Taman Kota

Perjalanan di antwerpen sih berakhir kembali di stasiun. karena saya ndak nemu hotel yang murah * ngarepnya sih ada yang 20 euro semalam, lumayan buat mandi dan berbenah, tapi cuman ketemu yang 50 euroan wiii *. sebelum memasuki stasiun sih saya menyempatkan diri lihat-lihat apa sih berlian yang dijajakan di kanan kiri jalan. begitu banyak toko berjejeran dan menjual hal yang sama, dengan embel-embel sale sampe 20 persen. nah di saat saya yang udik ini lihat-lihat tak ada niat beli inilah ada kejadian yang bikin cukup sebal. ” mas-mas, kalo cuman mau lihat2 aja tolong pergi, sepedanya ngalangin orang yang mau liat-liat” huhuhu… entar deh kalo dah punya duit, saya kunjungin toko sebelahnya wahahahaha

Dan sesaat kemudian, saya sudah ada di dasar stasiun * stasiun nya 3 lantai, sugoi tenan lah * naek kereta menuju brusel …